Laman

Minggu, 28 November 2010

MEMAHAMI ALLAH SEBAGAI NAMA YANG KEKAL BAGI DZAT MAHA TUNGGAL (Sebuah catatan dan opini)


            ALLAH, bagi sementara orang diluar Islam, rupanya diyakini masih dianggapnya sebagai ‘bukan’ nama. Dengan angggapan seperti itu, tersirat didalamnya kesimpulan yang mengarahkan kepada pengertian bahwa ALLAH menjadi seperti dipersamakan dengan ‘benda’ yang belum punya nama. Sehingga mereka (merasa perlu untuk0 terus mencari-cari apa nama Allah yang sebenarnya dari bermacam sumber acuan dan mengkaji berbagai literatur yang mereka yakini dapat memberi petunjuk, yang pada akhirnya membawa mereka sampai pada kesimpulan bahwa nama Allah yang sebenarnya adalah ILAHI  Nama ILAHI diyakini sebagai nama Yang Akan Kekal Selama-lamanya..(Brosur: NAMA ILAHI Yang Akan Kekal Selama-lamanya. – Penerbit: Perkumpulan Siswa-siswa Alkitab, Jakarta. – The Devine Name That Will Endure Forever, Indonesian (na-IN) – Made in Japan).
Sayangnya, didalam sumber acuan dan literatur yang menjadi bahan kajiannya tidak menunjukkan adanya tanda-tanda memasukkan Al Qur’an sebagai salah satu sumber acuan, untuk menguji kebenaran yang mereka yakini bahwa nama Allah adalah ILAHI yang akan kekal selama-lamanya. Mengingat Al Qur’an juga merupakan Kitab yang memuat ajaran kebenaran (hukum-hukum) yang diturunkan menjadi penuntun hidup manusia oleh dan dari sumber yang sama dengan yang menurunkan Kitab Taurat dan Injil yang menjadi anutan mereka. Yaitu ALLAH. Yang oleh Allah sendiri, Al Qur’an tersebut telah dinyatakan-Nya sebagai penyempurna Kitab-kitab (Taurat dan Injil) yang telah terlebih dahulu diturunkan-Nya. Bahkan juga dibakukan sebagai kitab suci yang tidak akan berubah dan tidak boleh diubah dari bahasa aslinya kedalam bahasa apapun yang ada didunia demi dan untuk menjaga keaslian dan kesuciannya.

SELALU LEBIH DULU MENUNGGU JATUH KORBAN (Sebuah kritik dan opini)


Berfikir antisipatif rupanya sudah tidak lagi mendominasi pemikiran para ahli di masing-masing bidang keahlian yang ditekuni. Terutama yang berkaitan dengan permasalahan keselamatan dan perilaku hidup masyarakat. Ini adalah pemkiran dangkal saya sebagai orang awam ketika melihat dan merasakan begitu banyak kejadian (peristiwa alam, kecelakaan dan peristiwa perang antar kelompok masyarakat) yang membuat mata menjadi terbelalak dan hati menjadi trenyuh.
Sudah sebegitu parahkah rusaknya kepekaan hati nurani para pemimpin negeri ini?
Mari kita coba simak dari beberapa kejadian yang cukup membuat perasaan hati menjadi ‘miris’.

WAJAH MURAM NEGERI PANCASILA INDONESIA Betulkah bangsa negeri ini sudah menjadi bangsa yang pemarah? (Sebuah kritik dan opini)


Tarakan (sebuah kota di Kalimantan) yang mencekam akibat bentrok warga yang tidak dapat dihindarkan lagi di kejadian dalam bulanSeptember 2010 adalah cermin dari buruknya penanganan keamanan oleh pemerintah. Yang dalam hal ini menjadi kewajiban polisi, sebagai petugas yang memang disiapkan untuk itu, yang lambat dan lamban menangani permasalahan serius dengan menganggapnya sebagai permasalahan kecil dan sepele. Baru setelah jatuh kroban, mendadak dipermasalahkan dengan mempersalahkan warga yang seharusnya mendapatkan pelayanan perlindungan, yang seharusnya tidak perlu sampai diminta, bila polisi memiliki ‘kepekaan’ kearah itu. Dalam keadaan apapun dan dalam keadaan yang bagaimanapun. Sehingga apa yang dilakukannya tidak menjadi bertentangan dengan tugas dan fungsi yang harus diemban yang selalu dibanggakan lewat slogan dalam spanduk “Kami siap melayani…….dst, dst’ agar tidak menjadi hanya manis dispanduk. Meskipun, barangkali, masih banyak juga sisi-sisinya yang baik. Tetapi, jangan lupa, semanis-manisnya susu sebelanga dia akan menjadi rusak karena tercemar hanya oleh setitik nila. Dan tugas untuk menjaga agar jangan sampai ada setitik nila yang menetes kedalam belanga, menjadi tugas berat pertama seorang ‘pimpinan’ tertinggi secara keseluruhan sampai kejenjang kepemimpinan pada tingkat yang paling rendah dengan penegakan hukum dan disiplin serta pemberian sanksi yang tidak boleh pilih kasih, demi rakyat yang telah membayar pajak untuk gaji mereka.

Minggu, 10 Oktober 2010

MENCARI ‘KEBENARAN’

Dalam pandangan saya, ada dua jenis ‘kebenaran’ yang sepertinya ‘hilang’, yang memiliki kaitan sangat erat dengan perikehidupan manusia didunia. Yang satu berkaitan dengan ketika kebenaran itu bersentuhan dengan permasalahan hukum dan keadilan yang sangat dirasakannya hilang oleh mereka (rakyat dan masyarakat) dari kelas yang terp[inggirkan. Dan yang satunya lagi berkaitan dengan keyakinan (agama) ketika suatu ‘kebenaran’ yang datangnya dari Allah justru dianggapnya sebagai sesuatu yang dapat dikesampingkan atau ditinggalkan. Meskipun mereka ini menyadari bahwa ‘kebenaran’ yang disangsikannya itu bersumber dari Dzat yang tidak terbantahkan. Sebuah kebenaran mutlak (dari Allah) yang bila dikehendaki, boleh diuji dan dikaji dengan kacamata ilmu pengetahuan atau ilmu apapun, bagi mereka yang masih meragukan

BUKAN KARENA MAKIN KLASIK MENJADI MAKIN MIRIP (Sebuah pelurusan ungkapan/pernyataan)

Catatan kecil untuk situs Khanisah Ortodoks Syria.

Saya bukan ahli agama dan bukan pula penafsir. Pengetahuan saya tentang agama (Islam yang saya anut), masih sangat jauh dari memadai untuk dapat bertukar fikiran. Apalagi untuk berdebat, tentang hal-hal yang berkaitan dengan agama dan perikehidupan bertoleransinya antar sesama dari pemeluk agama yang lain. Pengetahuan saya tentangnya, masih sebatas mengetahui karena membaca dari bahan-bahan bacaan yang tersedia (termasuk kitab suci agama) dan mendengar dakwah atau ceramah serta mencoba memahami apa yang tersirat didalamnya dari sisi kebaikan dan kebenarannya, dengan landasan logika dan akal fikiran. Kecuali terhadap sesuatu ketentuan Allah yang mutlak untuk harus di-imani sebagai bagian dari keyakinan agama (Islam) yang saya anut. Dapat pula dikatakan, pengetahuan dan pemahaman saya tentang hal tersebut tadi, masih hanya sebatas ‘kulit’ yang paling luarnya.

MINORITAS YANG BERBALIK MENJADI MAYORITAS. (Sebuah opini dan kritik kepemimpinan)

Dalam judul diatas, pengertian ‘mayoritas’nya lebih didasarkan pada ukuran ‘kuantitas’ perolehan hasil kerja (berupa undang-undang atau peraturan) yang, biasanya, menjadi latar belakang sebuah ‘pemaksaan’ kehendak. Yang seringnya datang dari kalangan dewan perwakilan rakyat yang terhormat. Bukan ‘kuantitas’ yang mewakili mayoritas masyarakat meski mereka menyadari dirinya berasal dari kelompok minoritas yang terangkat karena mandat (dari rakyat), tanpa peduli bagaimana cara mereka memperolehnya. Sehingga berhasil menjadi kelompok ‘semu’ mayoritas (dari yang dimaksud diatas) yang dapat memaksakaan kehendak. ‘Membalik’ keadaan dari yang seharusnya ‘kalah’ oleh mayoritas masyarakat (rakyat yang memberi mandat), menjadi ‘menang’ karena kekuasaan. “Suara rakyat adalah suara tuhan” yang sering dilantunkan (dinyanyikan) yang seharusnya menjadi sandaran kekuasaan, hanya menjadi ungkapan yang cuma sekedar terucap. Diakhir lagu, pelantunnya bagai tersedak biji salak sehingga harus menghentikan konsernya. Penonton (rakyat) dibiarkan terlarut kedalam ‘hiruk pikuk’ (pemerintahan ‘bermasalah’) yang tidak kunjung berkesudahan.

MINORITAS VS MAYORITAS (Sebuah renungan untuk berintrospeksi)

Sudah bukan rahasia lagi bahwa suatu kelompok minoritas, akan cenderung selalu menjadi ‘bulan-bulanan’ bagi kelompok mayoritas. Apapun kelompoknya, dan dimanapun keberadaannya. Baik ditingkat wilayah kehidupan dari yang paling kecil sampai kedalam wilayah kehidupan yang dapat disebut negara.
Meski secara teori kelompok minoritas tadi memperoleh jaminan perlindungan undang-undang yang dapat dimanfaatkannya sebagai benteng pertahanan untuk ber’kebebasan’ melakukan kegiatan, tetapi pada kenyataannya dilapangan, kebebasan berkegiatan yang dilakukannya akan terganjal oleh keadaan yang memaksanya masuk kedalam suatu situasi yang membuat kebebasannya menjadi ‘tidak tak terbatas’. Yang mau tidak mau, pengaruh ‘kondisi’ yang datangnya dari luar itu, harus diterima meski dirasakannya menyakitkan sebagai belenggu yang tidak seharusnya terjadi bila hanya dilihat dari sisi kebenaran menurut ukuran kebebasannya sendiri Dengan kata lain, suatu kebebasan akan tetap memiliki keterbatasan. Suatu kebebasan, tidak akan pernah bisa menjadi sempurna bulat selama kehidupan penganut kebebasan tadi masih berada dalam lingkungan kehidupan yang kompleks. Tidak peduli apakah anutan kebebasan itu tinggal dalam suatu wilayah yang sempit atau luas. Seperti disebuah negara yang anutan kebebasannya sangat dihargai dan dijunjung tinggi.

Sabtu, 09 Oktober 2010

KEADILAN, SUDAHKAH TERTEGAKKAN DINEGERI INI? (Sebuah kritik hukum)

Ketika seorang pencuri ayam tertangkap; ketika seorang (nenek) memungut empat buah coklat tertangkap; ketika seseorang yang memungut buah kapuk randu tertangkap; ketika seseorang yang mencuri setandan buah pisang karena kelaparan oleh kemiskinannya tertangkap, ketika seorang pemulung yang benar-benar menemukan dompet berisi uang tertangkap dengan tuduhan mencuri; dan masih banyak jenis ‘ketika-ketika’ lain dari orang-orang yang terpaksa melakukan tindakan dengan jerat tuduhan melakukan kejahatan karena kemiskinannya tertangkap, dapat dipastikan mereka tidak akan lolos dari ‘hukuman’ dengan ruang penjara siap meneima mereka sebagai penghuninya. Apapun alasan pembelaan yang dikemukakan, tidak mampu menumbuhkan rasa simpati atas keterpurukkan mereka. Sesungguh apapun kejujuran pembelaan yang dikemukakannya, tidak mampu menggugah nurani seorang jaksa penuntut atau hakim untuk mencari kebenaran demi tegaknya hukum dan keadilan. Meskipun tindakan mereka yang oleh penuntutnya dianggap kejahatan, dapat dibuktikan dan terbuktikan di pengadilan bukan sebagai profesi dan semata-mata dilakukan oleh tekanan keadaan akibat kemiskinan. Fikiran jaksa dan hakim yang seharunya mampu menyantuninya dengan keadilan, sudah terbelenggu oleh kebekuan dan kekakuan menghafal hukum-hukum dan peraturan yang hanya tertulis. Mereka tidak mau dan tidak berkehendak untuk pro-aktif menelusur dari sisi lain yang dapat dipakai untuk mempertimbangkan penjatuhan hukuman yang ‘adil’. Fikiran mereka lebih terpaku pada target jumlah penyelesaian perkara yang dapat diselesaikan dengan cepat demi ‘prestasi’. Sehingga penyidikkan, penyeledikkan dan pembuatan berkas perkara, penyelesaiaannya amat sering dipaksakan.Dan kalau perlu melalui penyiksaan agar si tertuduh cepat meng’iya’kan tindakan kejahatan yang dituduhkan. Tidak peduli pada sumpah kejujuran yang dipertahankannya meski dalam siksaan yang diderita oleh para pencari keadilan dari kelompok orang-orang seperti yang tergambarkan diatas. Keadilan bagi mereka masih menjadi barang yang sangat langka untuk dapat diraih. Keadilan bagi mereka masih ibarat jauh panggang dari api.

Minggu, 12 September 2010

POTRET PEMIMPIN DAN WAKIL RAKYAT YANG MEMALUKAN (Sebuah cermin perilaku kehidupan)

Dunia pemerintahan negeri ini sepertinya memang sudah tercabik-cabik. Peralihan pemerintahan jaman orde lama ke jaman orde baru yang menelan banyak sekali korban meninggal dan di penjara tanpa diadili yang begitu menyengat perasaan dan menciderai nilai-nilai kehidupan hak azasi manusia, dapat dikatakan masih belum dapat melahirkan kesejahteraan yang benar-benar dapat dirasakan oleh rakyat negeri ini yang katanya sangat ‘gemah ripah loh jinawi’. Kaya raya sumber daya alam dan mineral (hasil hutan, laut dan pertambangan) sehingga sangat menawan bagi negari-negari penjajah. Kalaupun ketika orde baru berkuasa dalam jangka yang sangat lama (sehingga menimbulkan kebosanan) ada ‘rasa aman’ yang dapat dinikmati oleh rakyat, tetapi ternyata ‘rasa aman’nya itu hanya sebuah rasa aman yang ‘semu’, karena meninggalkan banyak sekali hutang luar negeri yang dicipta selama kepemimpinan pemerintahan orde baru. Pembangunan diberbagai bidang atau proyek yang dilakukan meski dapat dinikmati oleh rakyat, kalau dikaitkan dengan hutang yang tertimbun, tidak sebanding dengan hasilnya. Alih-alih karena penciptaan pembangunan itu hanya kamuflase dari sebuah perilaku korup.

INGIN LEPAS DARI DIANGGAP PECUNDANG? (Iklan tandingan bayar pajak)


INGIN TIDAK DISEBUT PECUNDANG/PENGKHIANAT?

Segera kembalikan uang hasil korupsi Anda.


Anda akan segera menjadi pahlawan


pengentas kemiskinan yang mampu membuat


amarah rakyat menjadi berkah dan anugerah.


Atau Anda akan tetap menjadi pengemplang dan menyimpan


uang haram demi sebutan pecundang


dengan mengkhianati rakyat?


APA KATA DUNIA?

RENCANA PEMBANGUNAN GEDUNG BARU DPR (Sebuah fetakompli untuk rakyat)

Lagi-lagi ini adalah sebuah fetakompli (faith a comply) untuk rakyat dari anggota dewan yang terhormat yang rakyat telah mempergantungkan kepercayaan dan harapan untuk dapat mewakilinya menghadapi pemerintah ketika rakyat merasa butuh harus mencari ‘perlindungan’ karena telah diperlakukan tidak adil oleh para pemimpinnya. Namun rupanya gayung harapan itu tidak bersambut. Yang ada dan terasa, justru leher yang menjadi serasa tercekik menelan biji buah (kehendak anggota dewan yang selalu dipaksakan) yang lebih besar dari lubang kerongkongan dan menjadikannya tersedak.

PATRIOTISME DAN NASIONALISME (Sebuah kritik)

Dibalik kemudahan bagi rakyat negeri ini untuk menjadi patriot bangsa melalui cara membayar pajak dengan jujur dan tepat waktu (agar tidak dikatai oleh dunia), sebenarnya terselip adanya perlakuan tidak adil pemerintah kepada mereka. Terutama rakyat dari kelompok kelas yang sulit memperoleh penghasilan atau yang kualitas kehidupan dan penghidupannya ‘pas-pasan’. Belum lagi mereka (rakyat) yang dari kelompok kelas miskin dan yang lebih miskin lagi, yang hanya dapat melihat dan merasakan bahwa negeri ini kaya, tetapi tidak dapat ikut menikmati.

EKSPLOITASI PEREMPUAN DALAM IKLAN (Sebuah kritik)

Meskipun syah-syah saja membuat tema iklan dengan menggunakan gambar seorang perempuan seksi menurut ukuran mereka yang menganut konsep ‘seni untuk seni’, tetapi rasanya dibalik kata ‘syah’ itu tersembunyi kata-kata yang menyiratkan larangan menurut ukiuran moral dan agama. Masing-masing alasan dapat dipertanggung jawabkan dalam debat yang takkan pernah berakhir bila hanya mengikuti ukuran kepentingannya tanpa kesediaan memahami dari sisi mana sesuatu hal harus disetujui untuk dianggap dan dapat diterima ‘benar’.

KENAIKAN GAJI vs KENAIKAN HARGA (Sebuah fakta kehidupan)

Hanya mereka yang masih mudah ‘tertipu’ akan merasakannya sebagai ‘karunia’ akibat emosi yang terpicu oleh tingginya harga barang-barang kebutuhan yang ada.
Kalau saja mau memperhatikan dan menelaahnya lebih lanjut dengan memperbandingkan tingkat kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok sehari-hari yang akan terjadi akibat pengaruh rencana kenaikan gaji pegawai, tambahan pendapatan atau penghasilannya sebenarnya ‘semu’. Tingkat kenaikan pendapatan yang diperoleh (karena kenaikan gaji), hampir dapat dipastikan tidak (akan) pernah sebanding dengan tingkat kenaikan harga riil yang terjadi.

DOA ORANG AWAM PINGGIRAN

Yaa Allah… yaa Ar Rahmaan,
Hamba yang hanya seorang awam pinggiran dari kelompok luar lingkaran yang tersisihkan, yang hanya bagai sebutir pasir yang tidak memiliki manfaat untuk digunakan, yang hanya menjadi bagian dari sebuah kehidupan yang tenggelam dalam hiruk pikuk kesibukkan orang-orang yang lupa daratan mengejar jabatan, kekuasaan dan kekayaan, memohon anugerahmu – yaa Al Muhaymin - menguatkan iman orang-orang miskin untuk tegar menghadapi tikaman pedang kekuasaan dan ketidak adilan. Memohon kepada-Mu - yaa Al Fattah – berkenan melapangkan jalan keluar bagi mereka, dari himpitan kemiskinan dan kesengsaraan. Menganugerahkan kemurahan dan kemudahan – yaa Ar Razzaq - sebagaimana telah Engkau janjikan bagi semua makhluk ciptaan.
Agar mereka, kaum miskin, yang telah ditinggalkan oleh para pemimpinnya tidak terjebak kedalam sergapan nafas syetan yang selalu dihembuskan dalam dengkur ditidur lelap kebathilan.

DAKWAH SHALAT (Sebuah pendapat/pandangan)

Shalat, bagi umat islam merupakan kewajiban yang harus dilakukan dalam pembagian tiap waktu Isya, Subuh, Lohor, Ashar dan Maghrib (ISLAM). Diluar itu, ada shalat-shalat sunah yang dapat dilakukan sesuai tuntunan yang ada menurut kepentingan. Ada yang sifatnya muakkad (sangat dianjurkan oleh alasan yang menguatkan), ada pula yang sifatnya biasa.

DINAMIKA POLITIK, DINAMIKA DEMOKRASI ATAU DINAMIKA PEMBELAAN DIRI?

Dalam satu acara tatap muka dengan para petinggi partai Demokrat dikediaman pribadi SBY di Cikeas dibulan puasa 1431 Hijriah, beliau mengemukakan tentang beberapa hal yang berkaitan dengan perjalanan kepemerintahannya. Banyak hal dikemukakan dari yang dianggapnya sebagai sebuah keberhasilan sampai kepada kritik-kritik ‘miring’ atas kepemmpinannya.

JANGAN BURU-BURU MERASA BANGGA (Kritik hubungan Indonesia – Malaysia)

Merasa bangga untuk sebuah keberhasilan, apapun wujud keberhasilan itu, memang patut kita mensyukurinya sebagai hamba Allah yang teguh memegang ajaran agama. Itu bila terjadi atas suatu hal yang bersifat perorangan. Bila hal itu dikaitkan dengan ukuran kepentingan sebuah negeri, tidak semua keberhasilan dapat disebut membanggakan. Meskipun tetap harus disyukuri sebagai bagian dari rasa terima kasih kita kepada Allah yang selalu memberi pertolongan ketika kita menghadapi kesulitan.

Sabtu, 21 Agustus 2010

ANTARA KONFLIK DAN SIKAP TOLERAN DALAM BERAGAMA (Sebuah introspeksi)

Haruskah sikap toleran diberikan dengan kebebasan tak terbatas?

Meski saya meyakini banyak pihak yang berpendapat untuk memberikan jawaban ‘ya’, tetapi untuk saya pribadi, bependapat sebaliknya. Jawaban saya adalah ‘tidak’ Kalau saja kita mau sedikit berfikir, pemberian ‘ketak-terbatasan’ dalam banyak hal, akan selalu memiliki sisi-sisi yang cenderung menimbulkan akibat negatif. Yang bila tidak terkendali, akan dapat menimbulkan perilaku dalam bentuk tindakan-tindakan ‘semau sendiri’. Tidak peduli pada bahwa dikehidupan bermasyarakat, perlu dapat menempatkan diri dengan menyertakan kemauan untuk melihat dan menilai diri ketika akan melakukan kegiatan diwilayah orang lain, agar terhindar dari kemungkinan memunculkan permasalahan dan pertentangan yang tidak produktif.

SULITNYA MENCARI KEADILAN (Antara ‘pepe’ dan ‘jalan kaki’)

Rasanya kita semua tahu bahwa disetiap istana pemerintahan (istana raja atau kraton dan istana presiden) selalu memiliki halaman depan yang luas untuk berbagai kepentingan. Untuk sebuah kraton, biasanya lebih dikenal dengan alun-alun. Khususnya untuk kraton-kraton di Jawa karena barangkali sebutan itu terkait dengan bahasa daerah setempat. Entahlah apa sebutan lainnya untuk kraton-kraton yang ada diluar Jawa. Ditengah alun-alun biasanya ditanam dua pohon beringin karena kepercayaan ‘animisme’ yang tumbuh dalam masyarakat pada waktu itu (sekian puluh/ratus tahun silam) yang ditanam kanan-kiri bila dilihat dengan membelakangi pintu utama kraton.

LEDAKAN TABUNG GAS, SIAPA YANG SEBENARNYA LEBIH BERTANGGUNG JAWAB? (Sebuah opini)

Sepertinya tidak terlalu sulit untuk menjawabnya. Yang membuatnya sulit karena pihak yang ada kaitan tugas dengan permasalahan, selalu ingin lepas tangan, lepas tanggung jawab. Tidak ada kehendak untuk tampil sebagai ‘pahlawan’ kecuali ketika ada manfaat yang dapat dipetiknya. Hal itu karena kepekaan hati nuraninya sudah tertutup oleh debu kemunafikan yang semakin menebal.

Tidak sulit dalam pengertian yang difahami rakyat tentu saja pemerintah. Siapapun yang berada didalamnya, bukan menjadi persoalan karena yang penting adalah nilai pertanggung jawabannya mengingat program konversi kompor minyak tanah ke gas adalah program pemerintah.

PEMERINTAH SEDIAKAN DANA Rp.180 M UNTUK MAKAM GUS DUR? (Sebuah opini)

Itu adalah newsticker tvOne yang saya pernah baca belum lama ini. Mudah-mudahan saya tidak salah baca akibat mata tua yang kalau melihat tulisan atau angka, suka-suka berbayang.

Kalau newsticker itu benar (Rp.180 M – milyard), memang tidak salah dengan pemikiran yang melatar belakangi keinginan pemerintah untuk memberikan bantuan sebesar itu sebagai tanda penghargaan atas jasa almarhum Gus Dur sebagai guru bangsa dan bekas Presiden. Sayapun sebagai warga bangsa, dapat mengerti dan memahami tujuan dari pemikiran tersebut. Tetapi mari kita coba sorot dengan menggunakan logika dan akal fikiran yang bukan dengan maksud melecehkan suatu pemahaman tertentu dari sebagian warga bangsa yang menganutnya. Karena sorotan ini tertuju kepada pemerintah untuk dapat memikirkannya ulang demi kemaslahatan dan kebaikan pemerintah itu sendiri dimata rakyatnya.

KEKAGUMAN SAYA TERHADAP USTADZ ABU BAKAR BA’ASYIR (Sebuah opini)

Ustadz Abu Bakar Ba’asyir adalah sosok ulama yang termasuk saya kagumi. Kekaguman positif dari sisi ilmu agama, kepemimpinannya yang mampu memukaukan pandangan umat, dan keteguhannya mempertahankan pendapat ketika sampai pada suatu alam pemikiran bahwa itu harus dilakukannya.Tidak goyah oleh suatu keadaan yang barangkali menawarkan ‘kebaikan’. Bagi saya, sisi-sisi tersebut menjadi suatu catatan pribadi tersendiri.
Sisi-sisi yang tidak termasuk menjadi catatan pribadi, menjadi suatu catatan yang bagi saya menimbulkan pertanyaan bila dikaitkan dengan kedudukkan Ustadz Abu sebagai rakyat dan warga dari sebuah negara yang mengharuskan rakyatnya tunduk pada undang-undang.

AKHMADIYAH YANG SELALU DIHUJAT (Sebuah Opini)

Saya hanya orang Islam ‘pinggiran’. Pengetahuan saya tentang agama Islam masih sangat jauh dari memenuhi syarat untuk dapat bertukar fikiran dengan para muslimin yang pengetahuan agamanya pasti sudah sangat baik. Termasuk dalam memahami Al Qur’an.

Pemahaman agama Islam yang saya miliki (dan saya yakini) sesuai dengan pelajaran ngaji yang saya peroleh, mendengar dakwah-dakwah dan dari bacaan-bacaan yang ada termasuk dari dalam Al Qur’an sendiri, adalah bahwa:
  1. Al Qur’an merupakan kitab suci umat Islam yang didalamnya berisi kumpulan firman Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw yang kemudian dibukukan dan dibakukan (tidak boleh diubah dan berubah) menjadi Al Qur’an seperti yang saya kenal saat ini.
  2. Firman-firman Allah yang ada didalam Al Qur’an merupakan firman-firman penyempurna atas firman-firman Allah yang sudah diturunkan terlebih dahulu (tersebut dalam kitab Taurat dan Injil) kepada Nabi-nabi Allah sebelum Nabi Muhammad saw resmi ditunjuk menjadi utusan-Nya, sebagai pemberi peringatan dan penjelasan (kepada seluruh umat).
  3. Nabi Muhammad saw adalah Nabi terakhir dan penutup dalam arti bahwa sesudah Beliau, tidak ada lagi Nabi lain yang diturunkan.
  4. Agama Islam adalah agama Allah terakhir yang sudah disempurnakan dan diridloi yang Allah sendiri menyatakannya, sehingga umat yang berusaha menyimpangkan pengertian dari yang dimaksud tersebut adalah ‘sesat’.

BISUL KONFLIK INDONESIA – MALAYSIA (Sebuah refleksi)

Konflik Indonesia – Malaysia, dalam pandangan saya, benar-benar sudah seperti bisul abadi. Dia tumbuh didalam tubuh kedua negara sudah sejak jaman Presiden Soekarno masih berkuasa. Dijaman itu, slogan profokatif ‘Ganyang Malaysia’ sangat dikenal oleh rakyat Indonesia dengan kobaran semangat yang menyala-nyala. Gaungnya mendunia oleh suara Soekarno yang dengan gelora semangat nasionalismenya yang tidak pernah padam didadanya ketika itu, pasti dibawa kedalam forum-forum pertemuan internasional. Sama seperti ketika beliau menggelorakan semangat anti Amerika.

DAKWAH, SEBERAPA LUAS CAKUPANNYA? (Sebuah harapan untuk para ustadz)

Kata ‘dakwah’, sudah bukan lagi sebagai sesuatu yang asing. Dalam arti positifnya adalah penyiaran pesan yang biasanya lebih terkait dengan usaha penyebaran (ajaran) agama. Apapun agama itu. Tetapi yang lebih fasih mengenal kata ‘dakwah’ adalah agama Islam sesuai dengan asal katanya yang dari bahasa Arab. Sedangkan dalam agama Nasrani (Kriten/Katolik) lebih mengenal kata ‘misi’. “Dakwah’ dalam arti yang lebih memberi kesan negatif adalah ‘propaganda’. Karena propaganda biasanya dimanfaatkan untuk lebih banyak menyiarkan ‘kebohongan’ dengan menyampaikan janji-janji palsu yang muluk-muluk untuk menarik simpati orang.

TERNYATA MASIH PERLU (DIPAKSA) DIDIDIK LAGI. (Sebuah cermin kehidupan)

Kalau kita mau dengan lapang dada mengakui, ternyata sebagian besar dari bangsa kita masih perlu pendidikkan tambahan dihampir semua ‘pelajaran’ terutama yang terkait dengan hakikat hidup bermasyarakat antar sesama atau antara para pejabat dan rakyatnya. Bukan berarti pendidikkan formal yang sudah mereka jalani sampai batas maksimal yang dapat dicapai menurut ukuran dan tingkatannya, tidak bermanfaat dan tidak memenuhi harapan. Tetapi pada kenyataannya dilapangan, dalam konteks implementasi atas ilmu ‘sekolah’ yang sudah diperolehnya, tampak seperti tidak meninggalkan bekas. Analisis berfikirnya tampak tidak mencerminkan sebagai seorang intelektualis yang patut menjadi panutan dan tidak membuahkan hasil dalam pengertian sesuai ajaran kebenaran dan kebaikan agama. Bukan hanya bagi diri yang bersangkutan, tetapi lebih luas lagi bagi masyarakat yang seharusnya dapat ikut serta menikmati dampak positif atas hasil dari sebuah pendidikkan yang telah mereka capai.

Sabtu, 07 Agustus 2010

MENCARI KEMENANGAN ATAU MENCARI KEBENARAN DAN KEADILAN?

Bagi saya, pertanyaan tersebut muncul karena perasaan yang tergelitik oleh banyak peristiwa tawuran yang bukan hanya di akhir-akhir ini terjadi. Suatu pertanyaan yang erat kaitannya dengan keberadaan sebuah organisasi masyarakat yang maksud dan tujuan pendiriannya tentu tidak lepas dari visi dan misi yang sangat menarik simpati. Yang program-program kerjanya dapat dipastikan tidak akan melupakan masalah pemberian perlindungan atau pembelaan dan kesejahteraan, penegakkan kebenaran dan keadilan demi kepentingan masyarakat, serta program-program kerja lain yang sangat diharapkan yang bukan hanya bagi anggota golongan atau kelompoknya.
Namun sayangnya program-program kerja yang seharusnya bersifat dan mengandung unsur sosial, pada kenyataanya dilapangan, lebih sering ditampilkan dalam bentuk-bentuk gerakan yang bertentangan dengan maksud awal pendirian organisasi yang biasanya dengan nama kesatuan atau persatuan atau perkumpulan atau forum atau kelompok atau entah apalagi namanya sesuai dengan keinginan kelompok tersebut dalam memberikan nama organisasinya. Sehingga harapan masyarakat yang semula sudah berketetapan hati mendukungnya agar tercipta keadilan sebagai hasil kebenaran yang dapat ditegakkan, menjadi ibarat jauh panggang dari api. Yang tercipta justru ketidak adilan, ketidak samaan perlakuan, pelecehan kemiskinan, pembodohan dan keangkuhan sikap dari yang dirinya merasa kuat untuk berbuat arogan karena kekuasaan (jabatan, kekayaan, organisasi kelompok). Yang semuanya itu merupakan cermin kekasaran dan kekerasan perilaku yang menyimpang dari ajaran kebaikan dan kebenaran. Perilaku-perilaku yang lebih sering ditonjolkan dalam upaya mencari kemenangan dari pada mencari kebenaran dan keadilan. Hingga tampak lebih selaras dengan seloroh ‘yang penting menang dulu, urusan belakangan’.

SUMPAH ATAU SAMPAH?

Sebenarnya kata ‘sampah’ yang dipertentangkan dengan kata ‘sumpah’, menimbulkan kesan yang sangat tidak proporsional. Karena, bisa jadi, dapat dianggap sebagai merendahkan ‘nilai suci’ yang terkandung didalam kata sumpah itu sendiri. Tetapi yang jelas, bukan itu maksud dari yang ditulis dibawah ini. Itu hanya sebagai ekspresi dari ‘kemendongkolan’ yang terasa sudah menemui jalan buntu ketika sebuah ‘harapan’ masyarakat untuk diperlakukan ‘adil’, tidak lagi dapat disalurkan melalui wakil-wakil mereka yang sebelum menduduki kursi jabatannya telah meminta dukungan ‘suara’nya. Meski tidak semua berperilaku sama, tetapi gambaran secara umum, memberikan petunjuk yang sedemikian itu.

MISI MENCARI MANFAAT

Ketika saya masih di SMA dulu, saya akrab menyingkatnya dengan MMM. Sebuah fabel yang bukunya menjadi salah satu buku (sastra) yang wajib dibaca dalam pelajaran bahasa Indonesia dikelas budaya.

MMM memang hanya sebuah buku dongeng yang berisi penggambaran perilaku (watak dan budi) manusia yang diibaratkan pada perilaku binatang.
Dalam buku tersebut, hutan diibaratkannya sebagai sebuah negara. Dan seluruh binatang isi hutan (warga hutan) yang menghuni digambarkannya sebagai penduduk yang tidak ubahnya bagai kehidupan manusia dengan kelengkapan perangkat pemerintahan yang terdiri dari pimpinan tertinggi (raja hutan) sampai dengan binatang-binatang lainnya sebagai warga biasa yang tidak punya kuasa. Tokoh sentral adalah kancil yang digambarkannya sebagai binatang yang paling cerdik. Mampu mengecoh lawan, bila perlu, demi kepentingan dirinya sendiri atau kepentingan binatang lain yang dianggap perlu atau memerlukan pertolongannya meski kemuidian ditinggalkan setelah dianggapnya selamat.

MENELUSURI JEJAK PERMASALAHAN DIBALIK JALAN CINTA.

Sepertinya banyak diantara kita yang tidak menyadari bahwa cinta, disamping dapat menimbulkan semangat hidup, ternyata dapat pula menenggelamkannya. Meski semuanya itu tergantung dari kapasitas kemampuan masing-masing pelaku dalam menempatkan keberadaan kepentingannya dijalan yang positif atau negatif ketika dilanda olehnya.. Baik yang positif maupun yang negatif, dapat memunculkan situasi yang selaras dengan pemeo ‘cinta itu buta’ yang menyebabkannya sering menjadi lepas kendali, bila cara menempatkan dan memanfaatkan keberadaannya tidak memasukkan unsur pertimbangan logika dan akal fikiran.

KISAH KORBAN KETIDAK ADILAN IKLAN. (sebuah renungan)

Iklan, diakui sebagai salah satu sarana penyampai pesan yang cukup efektif. Apapun yang diiklankan dengan maksud agar diketahui masyarakat, menjadi lebih mudah dan lebih cepat sampai ke sasaran yang diinginkan. Tidak peduli dimanapun mereka (yang menjadi sasaran) berada, karena alat komunikasi sudah tersedia dalam bermacam bentuk dan kecanggihan.
Salah satu dari banyak pesan pemerintah yang selama ini tampak terasa gencar diiklankan adalah pesan ‘wajib’ bayar pajak dalam beberapa versi yang rasanya sudah tidak asing lagi dimata dan telinga pemirsa siaran televisi. Lebih-lebih yang didalamnya disertakan joke ‘apa kata dunia?.
Tidak ada yang aneh didalamnya. Dan memang tidak aneh isi pesan iklan yang ingin pemerintah sampaikan kepada masyarakat warganya. Bahkan isi pesan iklan tersebut, secara moral, dapat menjadi pemicu bagi wajib pajak untuk merasa malu bila tidak segera membayar pajak karena dari hasil terkumpulkannya pembayaran pajak, akan dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat. Yang pembiayaannya, memang harus diambilkan dari dalamnya.