Sepertinya banyak diantara kita yang tidak menyadari bahwa cinta, disamping dapat menimbulkan semangat hidup, ternyata dapat pula menenggelamkannya. Meski semuanya itu tergantung dari kapasitas kemampuan masing-masing pelaku dalam menempatkan keberadaan kepentingannya dijalan yang positif atau negatif ketika dilanda olehnya.. Baik yang positif maupun yang negatif, dapat memunculkan situasi yang selaras dengan pemeo ‘cinta itu buta’ yang menyebabkannya sering menjadi lepas kendali, bila cara menempatkan dan memanfaatkan keberadaannya tidak memasukkan unsur pertimbangan logika dan akal fikiran.
Menjalani kebersamaan hidup dalam cinta,bukannya tanpa masalah, Dan setiap masalah, sekecil apapun, yang tercipta disepanjang jalan percintaan dari dua orang laki-laki dan perempuan yang tidak terselesaikan dengan baik dan tidak tuntas, tanpa disadari, akan menjadi sisa permasalahan yang dapat terbawa masuk kedalam masa-masa ketika keduanya menjalani hidup berumah tangga sesudah masa-masa pecintaannya diakhiri dengan perkawinan. Kalaupun belum tentu tumbuh menjadi sebuah permasalahan (yang besar), tetapi paling tidak, sisa permasalahan yang tersisa dari masa-masa ketika menjalani hidup dalam percintaan yang tidak terselesaikan karena dianggap masalah kecil yang akan dapat hilang dengan sendirinya ketika sudah memasuki hidup dalam kebersamaannya sebagai sepasang suami istri, akan dapat menjadi seperti tunas sebatang pohon yang akan dapat tumbuh kapan saja menjadi ranting-ranting permasalahan. Atau akan dapat menjadi ibarat akar ilalang yang masih tersisa dan tertinggal dalam tanah yang tidak habis dicerabut ketika ingin memusnahkannya. Yang akan selalu mudah untuk tumbuh kembali kapan saja meskipun diatas permukaan tanahnya sudah hangus dibakar atau terbakar.
Tekanan situasi yang tidak ‘ramah’, akan menjadi semacam ‘siraman’ air hujan yang mempercepat tumbuhnya kembali sisa akar ilalang (permasalahan) yang semula terpendam.
Permasalahan-permasalahan kecil dibalik jalan cinta yang terabaikan dan biasanya sengaja diabaikan hanya karena merasa takut akan ‘kehilangan’ orang yang dicintanya, tanpa disadari, tersimpan sebagai duri dalam daging. Yang ketika terjadi gesekan kepentingan diantara kedua orang yang dilandanya, duri permasalahan tadi akan terasa menusuk-nusuk dari balik kulit.
Perlukah memahami rasa cinta?
Rasa cinta itu bagian dari nikmat Allah yang harus difahami dan harus disyukuri. Oleh kaena itu sepasang laki-laki dan perempuan yang saling mencinta dalam naungan cinta suci dan sejati karena Allah, akan dapat saling memandang diri mereka dengan jiwanya.
Komunikasi cinta yang terbangun diantara keduanya, tidak lagi menggunakan kata-kata.
Jiwa dan fikiran yang saling menyatu, memunculkan kemauan dan kemampuan untuk mengerti dan memahami bahasa isyarat yang disampaikan tanpa harus diucapkan.
Semuanya adalah bentuk ekspresi penyampaian perasaan dalam bahasa hati dari begitu banyak kehendak yang mengendap.
Rasa cinta yang selalu disandarkan pada rasa berserah diri pada Allah, akan membawa kebaikan pada sepasang manusia laki-laki dan perempuan yang dilandanya. Dan akan menjadi cinta yang disertai dengan niat berkorban demi kepentingan bersama secara timbal balik diantara keduanya tanpa paksaan atau tekanan..
Perasaan cintanya mampu menciptakan kebersamaan menyatukan kehendak untuk sefaham meraih kebahagiaan dalam bahasa yang sama dan seirama.
Perasaan cinta yang bersemayam didalam hati mereka yang dilanda, mampu membawa masing-masingnya untuk saling belajar mendalami makna cinta suci dan sejati yang merasuk kedalam jiwa diri dan fikiran mereka.
Perasaan cintanya bukan yang didalamnya tersembunyi dan menyembunyikan keinginan-keinginan dengan tujuan hanya untuk memenangkan kepentingan ‘aku’. Karena dari dalam cinta yang hanya ingin memenangkan kepentingan ‘aku’, akan terlahir sifat tamak dan serakah.
Perasaan cintanya bukan yang hanya disertai ‘nafsu’. Karena dari dalam perasaan cinta yang disertai nafsu akan terlahir sifat-sifat dari kemauan yang tidak pernah merasa terpuaskan. Pantang menghadapi halangan dan dapat menjurus pada tindak ‘kejahatan’ yang jauh menyimpang dari nilai-nilai ajaran kebaikan dan kebenaran.
Perasaan cintanya bukan pula yang tanpa ‘nafsu’. Karena dari dalam cinta yang tanpa nafsu, akan dapat memunculkan sifat ketidak pedulian dan masa bodoh. Kebutuhan hidup ‘harmonis’ dari sifat alamiah biologis pasangannya, dianggap sebagai hal yang dapat dikebelakangkan. Dianggapnya sebagai hal yang tidak perlu diperhatikan.
Cinta yang menyimpang dari tujuan untuk kebaikan dan kebenaran, akan dapat melahirkan dan menumbuhkan ‘kebohongan-kebohongan’ dihampir semua sikap dan perilaku serta perbuatan yang ditampilkan. Banyak benih kepalsuan yang tersimpan didalamnya yang selalu diselimuti dengan selubung keindahan dari janji-janji kemewahan yang sengaja dicipta untuk diucapkan.
Memaknai rasa cinta.
Cinta adalah pantulan perasaan yang selalu bersentuhan dengan nurani. Dia adalah suatu penyakit yang dapat menjangkiti hati siapapun tanpa mengenal batas usia dan warna kulit. Juga tidak mengenal batas wilayah ruang dan waktu. Bahkan nyala api cintanya dapat membakar hati setiap orang yang dilanda.
Bila cinta disertai kesungguhan dan kebenaran yang tulus dan ikhlas, dia akan dapat melahirkan orang-orang yang mau dan mampu untuk berfikir melakukan perbuatan yang baik dan bijak; mau dan mampu berkehendak untuk berbagi suka dan duka; mau dan mampu untuk memahami ketiadaan sebagai ada dan ada sebagai ketiadaan; mau dan mampu untuk saling memberi dan menerima kebaikan dan kebajikan tanpa paksaan dan tekanan, bukan hanya mau menerima; mau dan mampu memahami tanggung jawab dari peran dirinya dikehidupan bermasyarakat dan dikehidupan perkawinannya; mau dan mampu berbuat untuk terus belajar dan belajar melakukan penyesuaian mensejajarkan diri dalam pengetahuan dan wawasan dalam lingkungan kehidupannya akibat dari semangat nilai postif yang dimanfaatkannya; mau dan mampu untuk tidak membutakan mata hati kepada sesama karena kesadarannya akan iman agar tidak menjadi lebih buta dan tidak menjadi tersesat dari jalan yang benar ketika sudah harus berada dikehidupan akhirat (QS.17, Al Israa’ 72); mau dan mampu menjadi orang yang pemaaf (QS.7,AlA’raaf 199); mau dan mampu membuktikan diri menghindari percakapan menggunjing orang (QS.49, Al Hujuraat 12).
Nilai cinta bagi sebuah kehidupan.
Bila rasa cinta itu tumbuh dalam jiwa yang bersih, dia memiliki nilai yang suci dan akan menjadi abadi karena cinta adalah urusan jiwa yang masuk dan merasuk kedalam hati sanubari
Itu adalah cuplikan dari kata-kata bijak seorang cendekia dalam sebuah buku yang ditulisnya. Meskipun, pada pendapat saya, abadi yang dimaksudkannya, tentunya, bukan abadi yang dapat dipersamakan dengan abadinya milik Allah. Sedangkan dalam pemikiran Kahlil Gibran, cinta muncul didunia dalam bentuk yang berbeda-beda. Kadang muncul dalam wajah kearifan, kadang muncul dalam wajah keadilan dan seringkali tampil dalam wajah harapan. Tetapi yang rasanya lebih pas untuk direnungkan adalah pernyataan seorang penulis yang mengatakan bahwa cinta yang dapat menumbuhkan harap yang lebih berharga dan lebih agung adalah cinta yang kemunculannya dari rasa keadilan. Bukan dari gejolak nafsu dan rasa iba (belas kasihan). Bukan pula cinta yang dilandaskan pada akal fikiran karena dapat menjurus pada hanya memikirkan kepentingan duniawi: nafsu dan materi.
Apapun yang terjadi, bila cinta itu benar-benar diarahkan untuk menjadi memiliki nilai positif bagi sebuah kehidupan, dia akan dapat melahirkan kebahagiaan, ketenangan dan ketenteraman. Jauh dari permasalahan yang dapat termunculkan hanya oleh peristiwa-peristiwa kecil akbat perbedaan pemikiran dari dua kepala yang berbeda. (BAS.030810)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar