Laman

Sabtu, 07 Agustus 2010

MENCARI KEMENANGAN ATAU MENCARI KEBENARAN DAN KEADILAN?

Bagi saya, pertanyaan tersebut muncul karena perasaan yang tergelitik oleh banyak peristiwa tawuran yang bukan hanya di akhir-akhir ini terjadi. Suatu pertanyaan yang erat kaitannya dengan keberadaan sebuah organisasi masyarakat yang maksud dan tujuan pendiriannya tentu tidak lepas dari visi dan misi yang sangat menarik simpati. Yang program-program kerjanya dapat dipastikan tidak akan melupakan masalah pemberian perlindungan atau pembelaan dan kesejahteraan, penegakkan kebenaran dan keadilan demi kepentingan masyarakat, serta program-program kerja lain yang sangat diharapkan yang bukan hanya bagi anggota golongan atau kelompoknya.
Namun sayangnya program-program kerja yang seharusnya bersifat dan mengandung unsur sosial, pada kenyataanya dilapangan, lebih sering ditampilkan dalam bentuk-bentuk gerakan yang bertentangan dengan maksud awal pendirian organisasi yang biasanya dengan nama kesatuan atau persatuan atau perkumpulan atau forum atau kelompok atau entah apalagi namanya sesuai dengan keinginan kelompok tersebut dalam memberikan nama organisasinya. Sehingga harapan masyarakat yang semula sudah berketetapan hati mendukungnya agar tercipta keadilan sebagai hasil kebenaran yang dapat ditegakkan, menjadi ibarat jauh panggang dari api. Yang tercipta justru ketidak adilan, ketidak samaan perlakuan, pelecehan kemiskinan, pembodohan dan keangkuhan sikap dari yang dirinya merasa kuat untuk berbuat arogan karena kekuasaan (jabatan, kekayaan, organisasi kelompok). Yang semuanya itu merupakan cermin kekasaran dan kekerasan perilaku yang menyimpang dari ajaran kebaikan dan kebenaran. Perilaku-perilaku yang lebih sering ditonjolkan dalam upaya mencari kemenangan dari pada mencari kebenaran dan keadilan. Hingga tampak lebih selaras dengan seloroh ‘yang penting menang dulu, urusan belakangan’.

Banyak contoh kasus yang dapat disimak untuk direnungkan.

Berikut ini adalah satu contoh kasus yang kecilnya:
Seorang tukang becak yang karena kecerobohannya sendiri ketika melajukan becaknya dijalanan, tersenggol mobil yang tidak menyengajanya karena situasi yang tidak memungkinkannya untuk menghindari kejadian. Dengan kasarnya si tukang becak marah-marah dan ketika kalah berargumentasi dalam perdebatan, buru-buru mengundang teman-temannya anggota kelompok atau perkumpulannya, atau kesatuannya untuk membantu memenangkan perdebatan. Kalau perlu melakukan tindak kekerasan (pengeroyokkan) sebagai upaya untuk meminta ganti rugi (yang biasanya cenderung memeras), tanpa mempertanyakannya terlebih dahulu permasalahannya yang terjadi dengan melandaskan pada praduga tak besalah kepada tukang becak yang naas tadi untuk mencari kebenaran. Teman-teman si tukang becak termasuk pimpinannya meski tidak menyaksikannya sendiri, sudah langsung menyerang dan melakukan penekanan dan intimidasi terhadap pengemudi mobil yang pada akhirnya ‘terpaksa’ harus mengalah demi keamanan dan keselamatan jiwanya.
Contoh kasus kecil yang lainnya lagi dan sering sekali terjadi adalah kecelakaan antara motor dan mobil meski hanya sedikit tersenggol oleh sempit dan macetnya jalanan. Ini diluar pengendara motor yang menyengaja ‘menyenggolkan’ diri demi kepentingan pemerasan.
Contoh kasus besarnya, yang rasanya tidak perlu dikemukakan disini, amat sering pula terjadi. Bahkan sampai saat sekarang ini yang tidak lagi berpedoman pada pemahaman ‘siapa salah siapa benar’. Karena mereka lebih mengandalkan untuk memperlihatkan emosinya terlebih dahulu daripada menggunakan akal sehatnya.

Kalau hal seperti tersebut diatas itu terjadi pada mereka dari kelompok masyarakat biasa (rendah, miskin, kampungan, tidak berpendidikkan), barangkali masih dapat difahami karena kekurang-luasan pengetahuan dan wawasan yang mereka miliki. Tetapi bila hal seperti tersebut diatas tadi terjadi pada mereka dari kelompok yang dapat disebut sebagai institusi negara, berpendidikkan dan minta disebut intelek, siapa lagi yang patut dipandang sebagai panutan masyarakat? Siapa lagi yang patut diteladani? Siapa lagi yang patut dijadikan sebagai tempat mencari keadilan? Siapa lagi yang patut dipandang sebagai penegak kebenaran?

Barangkali, untuk saat ini yang entah kapan akan berakhir, amat tepatlah kiranya ungkapan ‘siapa kuat terangkat, siapa lemah menjadi sampah’ untuk diterapkan pada situasi jaman yang oleh ramalan Jayabaya disebutnya sebaga; ‘jaman edan, kalau nggak ikut edan nggak kebagian’ sehingga langsung atau tidak langsung, disadari atau tidak disadari, pada akhirnya tercipta situasi ‘kuat-kuatan’. Sikut-sikutan untuk memenangkan pertarungan demi dirinya sendiri atau kelompok. Orang lain bukan lagi menjadi urusannya.

Bagi mereka yang memiliki latar belakang kehidupan kampung (ndesa), barangkali masih dapat mengingat dan mengetahui bagaimana cara orang-orang kampung membelah bambu. Begitu dibagian pangkalnya sudah diawali dengan membelah secukup yang diperlukan, satu bagiannya diinjak dan satu bagiannya yang lain diangkat untuk dapat membelahnya sampai ujung.
Seperti itulah konsep-konsep ‘politik belah bambu’ yang rasanya tidak sulit untuk dianalogikan penerapannya pada peristiwa-peristiwa yang terceritakan diatas berkaitan dengan judul penulisan.
Atau jangan-jangan peristiwa-peristiwa seperti tersebut itu, di situasi jaman yang tampak sudah tidak kondusif ini, merupakan salah satu bagian dari banyak sekali tanda-tanda mendekati akhir jaman? Hanya Allah yang memiliki kekuasaan dan menentukan untuk itu. (BAS.040810)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar