Ketika saya masih di SMA dulu, saya akrab menyingkatnya dengan MMM. Sebuah fabel yang bukunya menjadi salah satu buku (sastra) yang wajib dibaca dalam pelajaran bahasa Indonesia dikelas budaya.
MMM memang hanya sebuah buku dongeng yang berisi penggambaran perilaku (watak dan budi) manusia yang diibaratkan pada perilaku binatang.
Dalam buku tersebut, hutan diibaratkannya sebagai sebuah negara. Dan seluruh binatang isi hutan (warga hutan) yang menghuni digambarkannya sebagai penduduk yang tidak ubahnya bagai kehidupan manusia dengan kelengkapan perangkat pemerintahan yang terdiri dari pimpinan tertinggi (raja hutan) sampai dengan binatang-binatang lainnya sebagai warga biasa yang tidak punya kuasa. Tokoh sentral adalah kancil yang digambarkannya sebagai binatang yang paling cerdik. Mampu mengecoh lawan, bila perlu, demi kepentingan dirinya sendiri atau kepentingan binatang lain yang dianggap perlu atau memerlukan pertolongannya meski kemuidian ditinggalkan setelah dianggapnya selamat.
Dalam setiap kali kancil memberikan pertolongan, digambarkannya tidak membeda-bedakan golongan. Meski selalu berusaha mencari keuntungan untuk dirinya dari setiap perbuatan yang dilakukan, perikebinatangannya tetap ditumbuhkan sehingga kalaupun disatu sisi bisa membuat marah diantara sesama, tetapi disisi yang lain tetap menjadi tumpuan harapan bagi binatang-binatang lain warga hutan ketika harus meminta pertolongannya untuk mendapatkan keadilan. Termasuk ketika berhasil menyelematkan nyawa seekor binatang yang sudah siap disantap oleh si raja hutan
Digambarkan pula bahwa kancil adalah binatang yang dengan kecerdikannya mampu memberikan jalan keluar bagi sebuah permasalahan yang buntu dalam setiap kali dilakukan rapat-rapat pertemuan antar binatang. Termasuk ketika pimpinan tertingginya (raja hutan) dihadapkan pada jalan buntu mengatasi permasalahan yang dialami oleh para anggota masyarakatnya dari seluruh binatang isi hutan. Raja hutan dengan sadar mau mengakui kelemahan dan kekurangannya sehingga keberingasan yang semula ditampilkan oleh sifat-sifat alami seekor raja hutan, mereda dan akhirnya memunculkan kedamaain bagi seluruh binatang warga hutan.
Kalau saja kita, sebagai makhluk yang dianugerahi akal, mau jujur dan tidak munafik untuk mau disebut ‘kehilangan kepekaan’ perasaan, banyak manfaat yang tersirat dapat dipetik dari isi dongeng yang terceritakan didalam buku MMM sebagai bahan renungan dan pembelajaran diri, apakah kita telah berperilaku sesuai dengan bagian atau kedudukkan masing-masing dalam ikut bertindak menegakkan kebenaran dan keadilan Yang pemimpin sesuai dengan sifat dan jiwa kepemimpinannya dalam melaksanakan amanah yang dipercayakan kepadanya, dan yang menjadi rakyat sesuai dengan keberadaannya sebagai rakyat yang mampu berdisiplin diri dan taat aturan. Dari pimpinan yang paling atas, termasuk semua jajarannya yang memegang amanah, sampai kepada rakyatnya sendiri dilapis yang paling bawah. Sehinga kesejahteraan dan keadilan yang selalu disuarakan dengan ‘lantang’ oleh mereka yang memiliki hak memberikan keadilan dan selalu didambakan oleh setiap warga negara, tidak sekedar menjadi bayangan fatamorgana yang hanya dapat dilihat, tetapi tidak pernah dapat didekap.
Sayang buku MMM tersebut tampaknya sudah hanya menjadi penghuni musium karena tidak lagi mudah ditemukan, meski sebagai bagian dari buku sastra yang patut dibaca dan diketahui oleh masyarakat. Paling tidak saya merasa sulit untuk dapat menemukannya. (BAS.060810)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar