Laman

Tampilkan postingan dengan label UMUM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label UMUM. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 November 2010

SELALU LEBIH DULU MENUNGGU JATUH KORBAN (Sebuah kritik dan opini)


Berfikir antisipatif rupanya sudah tidak lagi mendominasi pemikiran para ahli di masing-masing bidang keahlian yang ditekuni. Terutama yang berkaitan dengan permasalahan keselamatan dan perilaku hidup masyarakat. Ini adalah pemkiran dangkal saya sebagai orang awam ketika melihat dan merasakan begitu banyak kejadian (peristiwa alam, kecelakaan dan peristiwa perang antar kelompok masyarakat) yang membuat mata menjadi terbelalak dan hati menjadi trenyuh.
Sudah sebegitu parahkah rusaknya kepekaan hati nurani para pemimpin negeri ini?
Mari kita coba simak dari beberapa kejadian yang cukup membuat perasaan hati menjadi ‘miris’.

WAJAH MURAM NEGERI PANCASILA INDONESIA Betulkah bangsa negeri ini sudah menjadi bangsa yang pemarah? (Sebuah kritik dan opini)


Tarakan (sebuah kota di Kalimantan) yang mencekam akibat bentrok warga yang tidak dapat dihindarkan lagi di kejadian dalam bulanSeptember 2010 adalah cermin dari buruknya penanganan keamanan oleh pemerintah. Yang dalam hal ini menjadi kewajiban polisi, sebagai petugas yang memang disiapkan untuk itu, yang lambat dan lamban menangani permasalahan serius dengan menganggapnya sebagai permasalahan kecil dan sepele. Baru setelah jatuh kroban, mendadak dipermasalahkan dengan mempersalahkan warga yang seharusnya mendapatkan pelayanan perlindungan, yang seharusnya tidak perlu sampai diminta, bila polisi memiliki ‘kepekaan’ kearah itu. Dalam keadaan apapun dan dalam keadaan yang bagaimanapun. Sehingga apa yang dilakukannya tidak menjadi bertentangan dengan tugas dan fungsi yang harus diemban yang selalu dibanggakan lewat slogan dalam spanduk “Kami siap melayani…….dst, dst’ agar tidak menjadi hanya manis dispanduk. Meskipun, barangkali, masih banyak juga sisi-sisinya yang baik. Tetapi, jangan lupa, semanis-manisnya susu sebelanga dia akan menjadi rusak karena tercemar hanya oleh setitik nila. Dan tugas untuk menjaga agar jangan sampai ada setitik nila yang menetes kedalam belanga, menjadi tugas berat pertama seorang ‘pimpinan’ tertinggi secara keseluruhan sampai kejenjang kepemimpinan pada tingkat yang paling rendah dengan penegakan hukum dan disiplin serta pemberian sanksi yang tidak boleh pilih kasih, demi rakyat yang telah membayar pajak untuk gaji mereka.

Minggu, 12 September 2010

INGIN LEPAS DARI DIANGGAP PECUNDANG? (Iklan tandingan bayar pajak)


INGIN TIDAK DISEBUT PECUNDANG/PENGKHIANAT?

Segera kembalikan uang hasil korupsi Anda.


Anda akan segera menjadi pahlawan


pengentas kemiskinan yang mampu membuat


amarah rakyat menjadi berkah dan anugerah.


Atau Anda akan tetap menjadi pengemplang dan menyimpan


uang haram demi sebutan pecundang


dengan mengkhianati rakyat?


APA KATA DUNIA?

EKSPLOITASI PEREMPUAN DALAM IKLAN (Sebuah kritik)

Meskipun syah-syah saja membuat tema iklan dengan menggunakan gambar seorang perempuan seksi menurut ukuran mereka yang menganut konsep ‘seni untuk seni’, tetapi rasanya dibalik kata ‘syah’ itu tersembunyi kata-kata yang menyiratkan larangan menurut ukiuran moral dan agama. Masing-masing alasan dapat dipertanggung jawabkan dalam debat yang takkan pernah berakhir bila hanya mengikuti ukuran kepentingannya tanpa kesediaan memahami dari sisi mana sesuatu hal harus disetujui untuk dianggap dan dapat diterima ‘benar’.

Sabtu, 21 Agustus 2010

LEDAKAN TABUNG GAS, SIAPA YANG SEBENARNYA LEBIH BERTANGGUNG JAWAB? (Sebuah opini)

Sepertinya tidak terlalu sulit untuk menjawabnya. Yang membuatnya sulit karena pihak yang ada kaitan tugas dengan permasalahan, selalu ingin lepas tangan, lepas tanggung jawab. Tidak ada kehendak untuk tampil sebagai ‘pahlawan’ kecuali ketika ada manfaat yang dapat dipetiknya. Hal itu karena kepekaan hati nuraninya sudah tertutup oleh debu kemunafikan yang semakin menebal.

Tidak sulit dalam pengertian yang difahami rakyat tentu saja pemerintah. Siapapun yang berada didalamnya, bukan menjadi persoalan karena yang penting adalah nilai pertanggung jawabannya mengingat program konversi kompor minyak tanah ke gas adalah program pemerintah.

Sabtu, 07 Agustus 2010

MENELUSURI JEJAK PERMASALAHAN DIBALIK JALAN CINTA.

Sepertinya banyak diantara kita yang tidak menyadari bahwa cinta, disamping dapat menimbulkan semangat hidup, ternyata dapat pula menenggelamkannya. Meski semuanya itu tergantung dari kapasitas kemampuan masing-masing pelaku dalam menempatkan keberadaan kepentingannya dijalan yang positif atau negatif ketika dilanda olehnya.. Baik yang positif maupun yang negatif, dapat memunculkan situasi yang selaras dengan pemeo ‘cinta itu buta’ yang menyebabkannya sering menjadi lepas kendali, bila cara menempatkan dan memanfaatkan keberadaannya tidak memasukkan unsur pertimbangan logika dan akal fikiran.

KISAH KORBAN KETIDAK ADILAN IKLAN. (sebuah renungan)

Iklan, diakui sebagai salah satu sarana penyampai pesan yang cukup efektif. Apapun yang diiklankan dengan maksud agar diketahui masyarakat, menjadi lebih mudah dan lebih cepat sampai ke sasaran yang diinginkan. Tidak peduli dimanapun mereka (yang menjadi sasaran) berada, karena alat komunikasi sudah tersedia dalam bermacam bentuk dan kecanggihan.
Salah satu dari banyak pesan pemerintah yang selama ini tampak terasa gencar diiklankan adalah pesan ‘wajib’ bayar pajak dalam beberapa versi yang rasanya sudah tidak asing lagi dimata dan telinga pemirsa siaran televisi. Lebih-lebih yang didalamnya disertakan joke ‘apa kata dunia?.
Tidak ada yang aneh didalamnya. Dan memang tidak aneh isi pesan iklan yang ingin pemerintah sampaikan kepada masyarakat warganya. Bahkan isi pesan iklan tersebut, secara moral, dapat menjadi pemicu bagi wajib pajak untuk merasa malu bila tidak segera membayar pajak karena dari hasil terkumpulkannya pembayaran pajak, akan dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat. Yang pembiayaannya, memang harus diambilkan dari dalamnya.