Laman

Tampilkan postingan dengan label POLITIK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label POLITIK. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Oktober 2010

MINORITAS YANG BERBALIK MENJADI MAYORITAS. (Sebuah opini dan kritik kepemimpinan)

Dalam judul diatas, pengertian ‘mayoritas’nya lebih didasarkan pada ukuran ‘kuantitas’ perolehan hasil kerja (berupa undang-undang atau peraturan) yang, biasanya, menjadi latar belakang sebuah ‘pemaksaan’ kehendak. Yang seringnya datang dari kalangan dewan perwakilan rakyat yang terhormat. Bukan ‘kuantitas’ yang mewakili mayoritas masyarakat meski mereka menyadari dirinya berasal dari kelompok minoritas yang terangkat karena mandat (dari rakyat), tanpa peduli bagaimana cara mereka memperolehnya. Sehingga berhasil menjadi kelompok ‘semu’ mayoritas (dari yang dimaksud diatas) yang dapat memaksakaan kehendak. ‘Membalik’ keadaan dari yang seharusnya ‘kalah’ oleh mayoritas masyarakat (rakyat yang memberi mandat), menjadi ‘menang’ karena kekuasaan. “Suara rakyat adalah suara tuhan” yang sering dilantunkan (dinyanyikan) yang seharusnya menjadi sandaran kekuasaan, hanya menjadi ungkapan yang cuma sekedar terucap. Diakhir lagu, pelantunnya bagai tersedak biji salak sehingga harus menghentikan konsernya. Penonton (rakyat) dibiarkan terlarut kedalam ‘hiruk pikuk’ (pemerintahan ‘bermasalah’) yang tidak kunjung berkesudahan.

Minggu, 12 September 2010

POTRET PEMIMPIN DAN WAKIL RAKYAT YANG MEMALUKAN (Sebuah cermin perilaku kehidupan)

Dunia pemerintahan negeri ini sepertinya memang sudah tercabik-cabik. Peralihan pemerintahan jaman orde lama ke jaman orde baru yang menelan banyak sekali korban meninggal dan di penjara tanpa diadili yang begitu menyengat perasaan dan menciderai nilai-nilai kehidupan hak azasi manusia, dapat dikatakan masih belum dapat melahirkan kesejahteraan yang benar-benar dapat dirasakan oleh rakyat negeri ini yang katanya sangat ‘gemah ripah loh jinawi’. Kaya raya sumber daya alam dan mineral (hasil hutan, laut dan pertambangan) sehingga sangat menawan bagi negari-negari penjajah. Kalaupun ketika orde baru berkuasa dalam jangka yang sangat lama (sehingga menimbulkan kebosanan) ada ‘rasa aman’ yang dapat dinikmati oleh rakyat, tetapi ternyata ‘rasa aman’nya itu hanya sebuah rasa aman yang ‘semu’, karena meninggalkan banyak sekali hutang luar negeri yang dicipta selama kepemimpinan pemerintahan orde baru. Pembangunan diberbagai bidang atau proyek yang dilakukan meski dapat dinikmati oleh rakyat, kalau dikaitkan dengan hutang yang tertimbun, tidak sebanding dengan hasilnya. Alih-alih karena penciptaan pembangunan itu hanya kamuflase dari sebuah perilaku korup.

RENCANA PEMBANGUNAN GEDUNG BARU DPR (Sebuah fetakompli untuk rakyat)

Lagi-lagi ini adalah sebuah fetakompli (faith a comply) untuk rakyat dari anggota dewan yang terhormat yang rakyat telah mempergantungkan kepercayaan dan harapan untuk dapat mewakilinya menghadapi pemerintah ketika rakyat merasa butuh harus mencari ‘perlindungan’ karena telah diperlakukan tidak adil oleh para pemimpinnya. Namun rupanya gayung harapan itu tidak bersambut. Yang ada dan terasa, justru leher yang menjadi serasa tercekik menelan biji buah (kehendak anggota dewan yang selalu dipaksakan) yang lebih besar dari lubang kerongkongan dan menjadikannya tersedak.

DINAMIKA POLITIK, DINAMIKA DEMOKRASI ATAU DINAMIKA PEMBELAAN DIRI?

Dalam satu acara tatap muka dengan para petinggi partai Demokrat dikediaman pribadi SBY di Cikeas dibulan puasa 1431 Hijriah, beliau mengemukakan tentang beberapa hal yang berkaitan dengan perjalanan kepemerintahannya. Banyak hal dikemukakan dari yang dianggapnya sebagai sebuah keberhasilan sampai kepada kritik-kritik ‘miring’ atas kepemmpinannya.

JANGAN BURU-BURU MERASA BANGGA (Kritik hubungan Indonesia – Malaysia)

Merasa bangga untuk sebuah keberhasilan, apapun wujud keberhasilan itu, memang patut kita mensyukurinya sebagai hamba Allah yang teguh memegang ajaran agama. Itu bila terjadi atas suatu hal yang bersifat perorangan. Bila hal itu dikaitkan dengan ukuran kepentingan sebuah negeri, tidak semua keberhasilan dapat disebut membanggakan. Meskipun tetap harus disyukuri sebagai bagian dari rasa terima kasih kita kepada Allah yang selalu memberi pertolongan ketika kita menghadapi kesulitan.

Sabtu, 21 Agustus 2010

PEMERINTAH SEDIAKAN DANA Rp.180 M UNTUK MAKAM GUS DUR? (Sebuah opini)

Itu adalah newsticker tvOne yang saya pernah baca belum lama ini. Mudah-mudahan saya tidak salah baca akibat mata tua yang kalau melihat tulisan atau angka, suka-suka berbayang.

Kalau newsticker itu benar (Rp.180 M – milyard), memang tidak salah dengan pemikiran yang melatar belakangi keinginan pemerintah untuk memberikan bantuan sebesar itu sebagai tanda penghargaan atas jasa almarhum Gus Dur sebagai guru bangsa dan bekas Presiden. Sayapun sebagai warga bangsa, dapat mengerti dan memahami tujuan dari pemikiran tersebut. Tetapi mari kita coba sorot dengan menggunakan logika dan akal fikiran yang bukan dengan maksud melecehkan suatu pemahaman tertentu dari sebagian warga bangsa yang menganutnya. Karena sorotan ini tertuju kepada pemerintah untuk dapat memikirkannya ulang demi kemaslahatan dan kebaikan pemerintah itu sendiri dimata rakyatnya.

BISUL KONFLIK INDONESIA – MALAYSIA (Sebuah refleksi)

Konflik Indonesia – Malaysia, dalam pandangan saya, benar-benar sudah seperti bisul abadi. Dia tumbuh didalam tubuh kedua negara sudah sejak jaman Presiden Soekarno masih berkuasa. Dijaman itu, slogan profokatif ‘Ganyang Malaysia’ sangat dikenal oleh rakyat Indonesia dengan kobaran semangat yang menyala-nyala. Gaungnya mendunia oleh suara Soekarno yang dengan gelora semangat nasionalismenya yang tidak pernah padam didadanya ketika itu, pasti dibawa kedalam forum-forum pertemuan internasional. Sama seperti ketika beliau menggelorakan semangat anti Amerika.

Sabtu, 07 Agustus 2010

SUMPAH ATAU SAMPAH?

Sebenarnya kata ‘sampah’ yang dipertentangkan dengan kata ‘sumpah’, menimbulkan kesan yang sangat tidak proporsional. Karena, bisa jadi, dapat dianggap sebagai merendahkan ‘nilai suci’ yang terkandung didalam kata sumpah itu sendiri. Tetapi yang jelas, bukan itu maksud dari yang ditulis dibawah ini. Itu hanya sebagai ekspresi dari ‘kemendongkolan’ yang terasa sudah menemui jalan buntu ketika sebuah ‘harapan’ masyarakat untuk diperlakukan ‘adil’, tidak lagi dapat disalurkan melalui wakil-wakil mereka yang sebelum menduduki kursi jabatannya telah meminta dukungan ‘suara’nya. Meski tidak semua berperilaku sama, tetapi gambaran secara umum, memberikan petunjuk yang sedemikian itu.

MISI MENCARI MANFAAT

Ketika saya masih di SMA dulu, saya akrab menyingkatnya dengan MMM. Sebuah fabel yang bukunya menjadi salah satu buku (sastra) yang wajib dibaca dalam pelajaran bahasa Indonesia dikelas budaya.

MMM memang hanya sebuah buku dongeng yang berisi penggambaran perilaku (watak dan budi) manusia yang diibaratkan pada perilaku binatang.
Dalam buku tersebut, hutan diibaratkannya sebagai sebuah negara. Dan seluruh binatang isi hutan (warga hutan) yang menghuni digambarkannya sebagai penduduk yang tidak ubahnya bagai kehidupan manusia dengan kelengkapan perangkat pemerintahan yang terdiri dari pimpinan tertinggi (raja hutan) sampai dengan binatang-binatang lainnya sebagai warga biasa yang tidak punya kuasa. Tokoh sentral adalah kancil yang digambarkannya sebagai binatang yang paling cerdik. Mampu mengecoh lawan, bila perlu, demi kepentingan dirinya sendiri atau kepentingan binatang lain yang dianggap perlu atau memerlukan pertolongannya meski kemuidian ditinggalkan setelah dianggapnya selamat.