Konflik Indonesia – Malaysia, dalam pandangan saya, benar-benar sudah seperti bisul abadi. Dia tumbuh didalam tubuh kedua negara sudah sejak jaman Presiden Soekarno masih berkuasa. Dijaman itu, slogan profokatif ‘Ganyang Malaysia’ sangat dikenal oleh rakyat Indonesia dengan kobaran semangat yang menyala-nyala. Gaungnya mendunia oleh suara Soekarno yang dengan gelora semangat nasionalismenya yang tidak pernah padam didadanya ketika itu, pasti dibawa kedalam forum-forum pertemuan internasional. Sama seperti ketika beliau menggelorakan semangat anti Amerika.
Ketika Presiden Soeharto berkuasa, seingat saya, slogan ‘Ganyang Malaysia’ saat bisul konflik itu muncul, tidak terdengar sekeras dan sedahsyat seperti ketika dijaman Presiden Soekarno. Barangkali karena ada keikut sertaan pemimpin (Presiden Soekarno) yang juga menyuarakannya. Selama kepemimpinan Presiden Suharto, bahkan sampai kini, bila bisul konflik itu muncul, sikap anti Malaysia itu lebih banyak disuarakan hanya oleh para mahasiswa dan LSM-LSM serta rakyat yang aktif mendukungnya.Pemimpinnya sendiri tampak sibuk dengan cara penyelesaiannya sendiri yang selalu lebih banyak memunculkan kesan ‘lemah’ daripada ‘kuat’nya. Adat ‘ketimuran’ dan yang serupa dengannya, selalu dijadikan alasan sebagai benteng mempertahankan diri dari kecaman rakyat. Padahal alasan seperti itu, termasuk alasan ‘musyawarh’ pun ada kalanya harus ditempatkan sebagai alasan yang sudah basi untuk dipergunakan..
Keadaan kedua negara ketika masih dibawah kepemimpinan Presiden Soekarno dan sesudahnya, menjadi seperti berbanding terbalik. Dari sisi perekonomian maupun kekuatan. Paling tidak, itulah kesan yang dapat ditangkap dari berbagai pemberitaan. Padahal, Malaysia hanyalah sebuah negara yang dapat dikategorikan sebagai negara yang ‘manja’ karena terbiasa hidup dibawah bantuan dan dukungan pemerintah negara lain (Inggris). Kemerdekaannyapun hanyalah sebuah kemerdekaan yang ‘disodorkan’. Diberikan gratis oleh Inggris, tanpa pengorbanan dan kerja keras. Sedangkan Indonesia, adalah sebuah negara yang kehidupan rakyatnya selalu dalam perjuangan dan berjuang menentang penjajah (Belanda dan Jepang). Kemerdekaannya diperoleh dengan perjuangan dan kerja keras yang banyak menelan korban jiwa dan harta benda sehingga seharusnya menjadi sebuah negara yang kuat. Yang bukan hanya dibidang perekonomiannya (karena banyak memiliki sumber daya alam) tetapi juga dibidang pertahanannya (militer) karena memiliki kemampuan membeli senjata dengan memanfaatkan sumber daya alam yang ada. Seharusnya Indonesia mampu menjadi negara pengimpor tenaga kerja untuk mengolah sumber daya alam yang ada karena rakyat sendiri sudah sejahtera sehingga mampu menjadi majikan bagi tenaga asing yang diimpor. Dilain sisi mampu menjadi negara yang berani menggertak negara lain yang berusaha menjarah tanpa ijin dalam arti kata yang sebenar-benarnya. ‘Kesan’ yang menjadi berbanding terbalik itu, terasa sekali sebagai sudah menjadi kenyataan. Saya menjadi berprasangka: jangan-jangan Malaysia banyak sekali mengirim intel-intelnya untuk kepentingan kemajuan mereka. Untuk yang positif (menimba ilmu) ataupun yang negatif (perilaku melecehkan setelah mengetahui kelemahan ‘lawan’) dari Indonesia yang rakyatnya, diakuinya serumpun.
Dulu, Malaysia yang takut pada Indonesia. Sekarang, Indonesia yang terkesan takut menghadapi Malaysia.Tindak pelecehan Malaysia terhadap warga bangsa dan pemerintah Indonesia yang sudah amat sering terjadi, selalu ditanggapi untuk diselesaikan dengan baik. Dengan santun. Dengan kesabaran. Dengan ‘diplomasi’. Yang semuanya berakhir dengan kesan bahwa Indonesia sudah menjadi ‘takut’ menghadapi Malaysia.
Coba saja perhatikan kasus-kasus pelecehan yang terjadi pada tenaga kerja Indonesia dan kasus-kasus pelanggaran wilayah perbatasan termasuk pencurian ikan, hasil hutan, seni dan budaya dan keberhasilannya merebut pulau dengan kemenangan gemilang yang menambah kesan ‘lemah’nya pemerintahan negara Indonesia yang terkesan hanya bisa gigit jari dan ribut atau pura-pura ribut setelah semuanya terjadi. Terkesan tidak pernah mampu merencanakan dan melakukan tindakan antisipasi untuk menghadapi hal-hal buruk yang kemungkinan besar akan terjadi. Bahkan tindakan antisipasi didalam negeri sendiri demi kepentingan rakyatnya. Tampaknya Indonesia, terutama para pejabat pemerintahannya, tidak perlu lagi melantunkan dan melantangkan lagu klasik tentang kekayaan alamnya yang banyak, jumlah penduduknya yang besar dan kekayaan seni budayanya yang tidak terhitung, kalau tidak mampu memanfaatkannya untuk kepentingan keluar dan didalam negeri.
Bagi Malaysia, pasti ada alasan kuat yang membuatnya menjadi sangat berani terang-terangan melecehkan dan merendahkan Indonesia. Alasan yang membuat Malaysia menjadi semakin ‘yakin’ dapat memenangkan pertarungan bila mendapat perlawanan adalah setelah mengetahui bahwa keadaan Indonesia saat ini sebenanrnya dalam kondisi yang - tentu saja dimata Malaysia - ‘lemah’. Dan keyakinannya itu dibuktikan dengan keberaniannya menangkap tiga petugas DKP Indonesia pertengahan Agustus 2010 yang lalu, meskipun keberadaannya diwilayah perairan sendiri.
Sebuah keberanian yang sangat mirip dengan keberanian seekor hiyena yang baru akan menyerang lawan bila dirinya benar-benar merasa yakin akan menang. Dan Indonesia, benar-benar menjadi hanya seperti seekor kelinci yang selalu dapat dipermainkan sebelum diterkam untuk dijadikan mangsanya.
Meski bila memang benar apa yang difikirkan oleh Malaysia, seharusnya Indonesia tidak perlu takut untuk bertindak melecehkan dan menggertak balik. Karena rakyat Indonesia pasti akan mendukung memberikan pembelaan dan perlawanan walau hanya dengan keberanian semangat bambu runcing. Indonesia tidak perlu lagi menanggapi persoalan yang selalu ditimbulkan oleh Malaysia dengan mengambil sikap ‘alon-alon’ dengan selalu mengemukakan alasan akan menyelesaikan permasalahan melalui cara diplomasi yang sabar dan santun. Yang hanya akan terbaca dalam kesan sebagai ‘sudah tidak memiliki kemampuan lagi’ untuk melawan meski demi membela harkat dan martabat serta harga diri bangsa dan negara. Jangan selalu menggunakan alasan yang sudah ‘basi’ karena sudah amat sangat sering terjadi. (BAS180810)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar