Rasanya kita semua tahu bahwa disetiap istana pemerintahan (istana raja atau kraton dan istana presiden) selalu memiliki halaman depan yang luas untuk berbagai kepentingan. Untuk sebuah kraton, biasanya lebih dikenal dengan alun-alun. Khususnya untuk kraton-kraton di Jawa karena barangkali sebutan itu terkait dengan bahasa daerah setempat. Entahlah apa sebutan lainnya untuk kraton-kraton yang ada diluar Jawa. Ditengah alun-alun biasanya ditanam dua pohon beringin karena kepercayaan ‘animisme’ yang tumbuh dalam masyarakat pada waktu itu (sekian puluh/ratus tahun silam) yang ditanam kanan-kiri bila dilihat dengan membelakangi pintu utama kraton.
Alun-alun tersebut memiliki fungsi yang dapat dimanfaatkan oleh rakyat untuk menyampaikan aspirasi (keluhan atau tuntutan) apa saja yang ingin disampaikan kepada rajanya, bila rakyat merasa apa yang menjadi haknya, belum diperoleh. Baik dalam kelompok atau individu. Cara menyampaikan aspirasinya dilakukan dengan ‘pepe’ (duduk berjemur diri dibawah terik matahari), ditengah alun-alun dengan menghadapkan diri ke pintu utama kraton. Tidak perlu rumah aspirasi.
Raja yang aspiratif akan segera menanggapinya dengan tidak perlu menunggu sampai hitungan hari. Mempertanyakan permasalahan dan mempertanyakan apa yang dikehendaki agar raja dapat segera berbuat yang terbaik bagi rakyat melalui abdi dalemya (punggawa karaton). Atau bagi raja yang benar-benar merakyat akan mempertanyakannya sendiri.secara langsung pada mereka yang melakukan aksi ‘pepe’. Baik yang secara kelompok maupun pribadi.
Dijaman sekarang ini, sudah bukan waktunya lagi melakukan tuntutan kepada pimpinan (presiden) dengan cara yang sama. Meskipun ada yang hampir mirip dengan itu yang dilakukan diwilayahnya sendiri (tidak dihalaman istana). Yaitu mereka yang menanam tubuhnya sendiri kedalam tanah sebatas leher yang memperjuangkan hak kepemilikan atas tanah yang telah mereka tempati.
Bentuk lain yang sudah dilakukan dengan nyata dalam usaha mencari keadilan adalah yang dilakukan dengan jalan kaki oleh seorang Bapak, sejauh ratusan kilometer selama hampir satu bulan, hanya karena ingin menemui dan menyampaikan tuntutan serta mempertanyakan keadilan kepada presiden, yang ternyata menemukan kekecewaan yang amat menyakitkan. Sangat kontradiktif dengan kepemimpinan seorang raja yang aspiratif.
‘Pepe’, ‘jalan kaki’, ‘menanam tubuh’, demonstrasi aksi atau apapun yang lainnya adalah bentuk-bentuk upaya mencari keadilan yang dilakukan oleh rakyat sebuah negeri karena mereka berhak untuk mendapatkannya. Karena dari mereka-mereka itulah kehidupan para pemimpin negeri dan pejabat-pejabat pemerintahan telah termanjakan dengan pajak-pajak yang harus dibayarnya. Namun pada kenyataannya, boro-boro mendapatkan keadilan, pelayanan dengan yang baikpun, menjadi sesuatu yang sulit diperoleh. Picingan mata mereka selalu lebih tertuju kearah yang dapat memberi manfaat dan keuntungan bagi dirinya.
Terkesan sekali bahwa keberadaan rakyat hanya dibutuhkan untuk kepentingan membayar pajak dan pemilu lima tahunan yang pada saat-saat seperti itu, semua rakyat disanjung bahkan dengan tiupan kata-kata ‘suara rakyat suara tuhan’, agar mau memilihnya.
Kondisi yang menjadi memprihatinkan adalah: mengapa pemimpin negeri ini yang jelas-jelas dipilih langsung oleh rakyat, tidak responsif terhadap tuntutan rakyat yang telah memilihnya. Sedangkan seorang raja yang mengangkat dirinya sendiri menjadi pimpinan karena keturunan, justru bisa lebih tanggap. (BAS.090810)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar