Itu adalah newsticker tvOne yang saya pernah baca belum lama ini. Mudah-mudahan saya tidak salah baca akibat mata tua yang kalau melihat tulisan atau angka, suka-suka berbayang.
Kalau newsticker itu benar (Rp.180 M – milyard), memang tidak salah dengan pemikiran yang melatar belakangi keinginan pemerintah untuk memberikan bantuan sebesar itu sebagai tanda penghargaan atas jasa almarhum Gus Dur sebagai guru bangsa dan bekas Presiden. Sayapun sebagai warga bangsa, dapat mengerti dan memahami tujuan dari pemikiran tersebut. Tetapi mari kita coba sorot dengan menggunakan logika dan akal fikiran yang bukan dengan maksud melecehkan suatu pemahaman tertentu dari sebagian warga bangsa yang menganutnya. Karena sorotan ini tertuju kepada pemerintah untuk dapat memikirkannya ulang demi kemaslahatan dan kebaikan pemerintah itu sendiri dimata rakyatnya.
Seberapa pentingkah relevansi tugas pemerintah membangun makam almarhum Gus Dur dibandingkan dengan keharusan pemerintah melakukan tugas kerakyatan mengentaskan kemiskinan yang manusianya jelas-jelas masih hidup dan membutuhkan uluran bantuan? Jumlah Rp.180 M adalah jumlah yang sangat besar untuk membangun sebuah cungkup meski dalam ukuran yang besar agar dapat menampung banyak peziarah yang terjadinya hanya pada saat-saat tertentu. Jumlah sebesar itu akan jauh lebih memiliki manfaat bila digunakan untuk usaha mengentaskan kemiskinan karena nilainya akan setara dengan ratusan ribu orang-orang miskin yang amat sangat membutuhkan bantuan.dan pertolongan dari pemerintah sebagai tempat paling pertama dan utama menggantungkan harapan.
Kalau yang akan membangun cungkup tersebut adalah keluarga almarhum Gus Dur sendiri dengan berapapun besarnya biaya, hal itu menjadi urusan dan hak mereka. Opini ini tidak akan ada meskipun tetap dapat mempertanyakan: “Apakah akan dibuat seperti Astana Giri Bangun?”
Kalaulah pemerintah berkehendak membantu pembangunan makam almarhum Gus Dur sebagai ‘penghargaan’ atas jasa-jasa beliau, pada pendapat saya, cukup dengan antara Rp.2 – 3 milyard saja. Pemerintah sebagai pemegang amanah rakyat yang masih memiliki puluhan juta warga miskin (belum termasuk korban bencana yang terlantar dan menjadi miskin), tidak perlu merasa malu kepada keluarga almarhum Gus Dur karena tugas mengentaskan kemiskinan masih jauh lebih perlu untuk harus dilakukan. Bukan justru memikirkan hal-hal yang sudah tidak nyata dan sudah tidak ada. Yang hidup dalam kemiskinan masih jauh lebih penting untuk difikirkan.
Bila kehendak mengeluarkan dana Rp.180 M untuk makam almarhum Gus Dur itu, (atau kalaulah saya salah baca dari yang seharusnya cuma Rp.18 M karena newsticker tvOne salah ketik), masih akan tetap dipaksakan dilakukan, kecurigaan yang muncul adalah: jangan-jangan hal itu hanya sebuah proyek yang sengaja diada-adakan.
Nama baik dan pamor pemerintah memang harus dicipta. Akan tetapi rakyat miskin yang masih hidup, baik yang karena kemiskinannya dan yang karena korban bencana, yang sangat mendambakan ketenangan dan kesejahteraan, tidak boleh dikorbankan. (BAS130810).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar