Laman

Sabtu, 21 Agustus 2010

AKHMADIYAH YANG SELALU DIHUJAT (Sebuah Opini)

Saya hanya orang Islam ‘pinggiran’. Pengetahuan saya tentang agama Islam masih sangat jauh dari memenuhi syarat untuk dapat bertukar fikiran dengan para muslimin yang pengetahuan agamanya pasti sudah sangat baik. Termasuk dalam memahami Al Qur’an.

Pemahaman agama Islam yang saya miliki (dan saya yakini) sesuai dengan pelajaran ngaji yang saya peroleh, mendengar dakwah-dakwah dan dari bacaan-bacaan yang ada termasuk dari dalam Al Qur’an sendiri, adalah bahwa:
  1. Al Qur’an merupakan kitab suci umat Islam yang didalamnya berisi kumpulan firman Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw yang kemudian dibukukan dan dibakukan (tidak boleh diubah dan berubah) menjadi Al Qur’an seperti yang saya kenal saat ini.
  2. Firman-firman Allah yang ada didalam Al Qur’an merupakan firman-firman penyempurna atas firman-firman Allah yang sudah diturunkan terlebih dahulu (tersebut dalam kitab Taurat dan Injil) kepada Nabi-nabi Allah sebelum Nabi Muhammad saw resmi ditunjuk menjadi utusan-Nya, sebagai pemberi peringatan dan penjelasan (kepada seluruh umat).
  3. Nabi Muhammad saw adalah Nabi terakhir dan penutup dalam arti bahwa sesudah Beliau, tidak ada lagi Nabi lain yang diturunkan.
  4. Agama Islam adalah agama Allah terakhir yang sudah disempurnakan dan diridloi yang Allah sendiri menyatakannya, sehingga umat yang berusaha menyimpangkan pengertian dari yang dimaksud tersebut adalah ‘sesat’.
Dengan mendasarkan pada pemahaman diatas, saya menjadi berfikir: apa tidak sebaiknya para ulama Islam bersepakat melakukan ‘debat’ terbuka dengan para ulama Akhmadiah kalau memang mereka bersikukuh mempertahankan pendapatnya bahwa mereka tetap beragama Islam tetapi dengan ber-Nabi-kan Mirza Gulam Akhmad. Bahan debatnya adalah ayat-ayat Al Qur’an yang (dapat) mengundang pertentangan atau dipertentangkan tentang yang berkait dengan keberadaan Nabi Muhammad sebagai Nabi terakhir dan penutup para Nabi. Karena pada kenyataannya orang-orang penganut Akhmadiyah, bersikukuh dan meyakini pendapatnya bahwa Mirza Gulam Akhmad adalah Nabi mereka.

Kalau para ulama Aklhmadiyah dapat mempetahankan kebenarannya, seharusnya dan sebaiknya mereka menyatakan saja bahwa Akhmadiyah adalah agama baru dengan tidak menyebut nama Islam sehingga bisa terbebas dari hujatan dan tidak dikejar-kejar oleh umat Islam yang meyakini kerasulan Nabi Muhammad saw. Kehidupan umat Akhmadiyah dapat menjadi tenang seperti kehidupan umat agama lain yang jelas-jelas berada diluar Islam.

Kalau mereka ingin tetap menyebut diri orang Islam, jangan sekali-kali mengakui dan menyebut Mirza Gulam Akhmad sebagai Nabi dan Rasul yang sudah menjadi hak Nabi Muhammad saw atas keputusan dan ketetapan Allah Anggap saja Mirza Gulam Akhmad sebagai orang Islam panutan yang hidup dengan pemahamannya sendiri seperti kelompok-kelompk tarekat yang ada. Itupun masih dengan catatan sejauh mereka tidak melaksanakan ajaran-ajaran sesat yang keluar dari ajaran agama Islam yang didasarkan pada Al Qur’an dengan ber-Nabi-kan Rasul Muhammad saw. (BAS110810).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar