Dalam satu acara tatap muka dengan para petinggi partai Demokrat dikediaman pribadi SBY di Cikeas dibulan puasa 1431 Hijriah, beliau mengemukakan tentang beberapa hal yang berkaitan dengan perjalanan kepemerintahannya. Banyak hal dikemukakan dari yang dianggapnya sebagai sebuah keberhasilan sampai kepada kritik-kritik ‘miring’ atas kepemmpinannya.
Yang menarik adalah bahwa didalam lontaran kegembiraannya, menyiratkan sikap ‘jumawa’ ketika menyampaikan tanggapan atas kritik-kritik masyarakat dalam bentuk berbagai sikap kritis yang diterimanya secara langsung ataupun tidak. Sikap ‘jumawa’ yang membawa kepada ‘lupa diri’ bahwa masih banyak sekali tugas yang harus diselesaikan. Terutama yang berkaitan dengan tugas menciptakan kesejahteraan rakyat yang sampai sekarang masih ‘NOL” besar. Termasuk pemberantasan korupsi yang menjadi jargon utama ketika berkampanye. Belum lagi masalah penegakkan hukum dan keadilan. Bahkan penyelesaian penanganan korban-korban bencana masih amat jelas terbengkalai akibat perilaku beberapa pejabat bawahannya ditingkat tempat bencana terjadi yang memanfaatkan kewenangannya untuk kepentingan pribadi, yang juga mencerminkan penanganan yang tidak berkeadilan. Masih ditambah lagi korban-korban dari bencana baru ledakkan tabung gas akibat pelaksanaan proyek konversi minyak ke gas yang tidak sinkron.
Sadar bahwa masa jabatannya sudah tidak mungkin diperpanjang lagi akibat terhalang undang-undang, kepemerintahannya menjadi terkesan asal jalan. ‘Serius’ tapi ‘semu’. Penyelesaian kasus korupsi terkesan asal ada sidang. Hasilnya seperti apa, dianggapnya bukan menjadi urusannya dengan berlindung dibalik alasn ‘tidak mau ikut campur’. Kepekaan nuraninya tergadai oleh pemegang otoritas penjatuh hukuman yang selalu berusaha menempatkan laporan ABS memperoleh pembiaran. Mudah sekali terbaca sebagai tidak melakukan fungsi kontrol atas kepemimpinannya meski atas kasus yang dapat mencoreng muka sendiri. Tercermin dari banyak kasus terjadi atas pembiaran terhukum yang dapat dengan santainya berjalan-jalan diluar penjara.
Pengentasan kemiskinan tak pernah terwujud. Bahkan semakin terpuruk dengan jumlah rakyat miskin yang sudah menggunung, yang diperparah oleh peningkatan jumlah penganggur yang ikut menambah beban penderitaan.
Gemuruh hukuman dari Allah berupa bencana alam, dirasakannya bagai suara seruling senja yang menawan. Bukan dirasakannya sebagai bahan introspeksi kepemrintahan dan kepemimpinannya sambil memohon ampunan-Nya, untuk kemudian mempebaiki diri.
Penegakkan hukum dan keadilan, tetap saja bagai menegakkan benang basah.
Kritik-kritik pedas diterimanya dengan ‘senyum’ yang menyiratkan ejekan oleh kemenangannya yang mutlak. Kritik terhadap partai dianggapnya sebagai dinamika politik.
Kritik terhadap pemerintah dianggapnya sebagai dinamika demokrasi.
Kepada partai binaannya, dimintanya tenang-tenang saja menanggapi. Yang dalam bahasa gaul sekarang, terkesan partainya boleh mengambil sikap ‘EGP’.
Barangkali inilah sebuah pengakuan dari satu sikap yang boleh disebut ‘dinamika pembelaan diri’. Tidak peduli pada kritik. Bahkan bila sampai harus mengorbankan harga diri. (BAS240810)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar