Lagi-lagi ini adalah sebuah fetakompli (faith a comply) untuk rakyat dari anggota dewan yang terhormat yang rakyat telah mempergantungkan kepercayaan dan harapan untuk dapat mewakilinya menghadapi pemerintah ketika rakyat merasa butuh harus mencari ‘perlindungan’ karena telah diperlakukan tidak adil oleh para pemimpinnya. Namun rupanya gayung harapan itu tidak bersambut. Yang ada dan terasa, justru leher yang menjadi serasa tercekik menelan biji buah (kehendak anggota dewan yang selalu dipaksakan) yang lebih besar dari lubang kerongkongan dan menjadikannya tersedak.
Saya memang tidak tahu persis apakah rakyat dinegeri lain memiliki kesamaan nasib dengan rakyat dinegeri ini. Tetapi yang dapat saya rasakan dan bayangkan dari getar pemberitaan media yang dapat saya tangkap, saya berfikir bahwa hanya rakyat dinegeri ini yang nasib kehidupannya terasa belum dapat mempergantungkan kepercayaan kepada anggota dewan yang ketika belum dipilih, ‘memaksanya’ untuk memilih. Janji tinggal janji dan sumpah diubah menjadi sampah.
Rakyat yang seharusnya mempergantungkan kepercayaan dan harapan kepada anggota dewan yang telah dipilihnya, justru menjadi terbalik. Rakyat menjadi tempat pergantungan kepercayaan dan harapan anggota dewan untuk selalu dapat dipaksa ‘setuju’ dengan keinginan-keinginan mereka tanpa peduli bahwa keinginan-keinginan tersebut telah membuat hati rakyat (yang telah memilihnya) menjadi sakit. Keinginan-keinginan yang semuanya mencerminkan kehendak untuk menikmati ‘kemewahan’ hidup pribadi atau kelompok yang jelas-jelas lepas dari kendali jiwa kepemimpinan yang baik. Yang amanah. Yang berani berkorban untuk rakyat yang telah membantunya mengangkat harkat dan martabat dirinya untuk dapat menduduki kursi dewan yang terhormat.
Mari kita coba simak keinginan menyolok yang telah mereka munculkan dengan bermacam alasan pembenar menurut ukurannya. Antara lain permintaan kenaikan gaji, permintaan tambahan fasiltas termasuk mobil mewah dan tunjangan-tunjangan, dan rasanya masih banyak yang tidak terungkap yang semuanya dapat dideteksi sebagai suatu fetakompli. Bukan lagi sebagai ’usulan’ yang perlu dikaji dan dibicarakan terlebih dahulu sebelum diputuskan, dari sisi kepentingan dan kebutuhan, kemampuan finasiil dan skala prioritas serta dari sisi ‘moral’ yang terkait dengan harapan dan hajat hidup rakyat. Semuanya terdeteksi sebagai ‘sudah’ menjadi keputusan final yang hanya tinggal menunggu ‘stempel’ persetujuan dari (memaksa) rakyat. Yang bila ditolak, mereka, para anggota dewan itu, menunjukkan sikap yang bagai perilaku kanak-kanak: ‘ngambek’. Malas datang ke sidang dewan. Kalau pun datang, tidur dikursinya, main hand-phone, ngobrol, baca koran atau apa saja yang menunjukkkan ketidak seriusan bekerja sebagai wakil rakyat. Tidak semuanya, memang. Karena diantara mereka masih ada yang baik. Tetapi sayangnya, mereka yang baik-baik itu, selalu pada akhirnya menjadi terbawa sebagai pengikutnya. ‘Ketidak-setujuan’ yang mereka suarakan dengan sesekali mempertunjukkan perdebatan yang sengit diantara para angota dewan, lebih terkesan agar tampak dimata rakyat bahwa mereka telah benar-benar ‘berjuang’.
Demikian itu pulalah rencana pembangunan gedung DPR yang baru. Ketika ada wacana agar dikaji dan dinilai ulang (dari berbagai sudut kepentingan), didalam alasan yang dikemukakannya tercermin alasan yang diada-adakan agar proyek tetap dapat berlanjut. Yang mengejutkan adalah bahwa rencana tersebut ternyata sudah matang sejak (kata anggota BURT) tiga tahun yang lalu. Sehingga tidak mungkin lagi diulang. Rakyat selalu saja menjadi korban untuk harus mau bersabar menghadapi para angota dewan yang lebih mengutamakan fasilitas dari pada kerja. Selalu lebih mengutamakan menuntut hak dari pada melakukan kewajiban. (BAS080910)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar