Dunia pemerintahan negeri ini sepertinya memang sudah tercabik-cabik. Peralihan pemerintahan jaman orde lama ke jaman orde baru yang menelan banyak sekali korban meninggal dan di penjara tanpa diadili yang begitu menyengat perasaan dan menciderai nilai-nilai kehidupan hak azasi manusia, dapat dikatakan masih belum dapat melahirkan kesejahteraan yang benar-benar dapat dirasakan oleh rakyat negeri ini yang katanya sangat ‘gemah ripah loh jinawi’. Kaya raya sumber daya alam dan mineral (hasil hutan, laut dan pertambangan) sehingga sangat menawan bagi negari-negari penjajah. Kalaupun ketika orde baru berkuasa dalam jangka yang sangat lama (sehingga menimbulkan kebosanan) ada ‘rasa aman’ yang dapat dinikmati oleh rakyat, tetapi ternyata ‘rasa aman’nya itu hanya sebuah rasa aman yang ‘semu’, karena meninggalkan banyak sekali hutang luar negeri yang dicipta selama kepemimpinan pemerintahan orde baru. Pembangunan diberbagai bidang atau proyek yang dilakukan meski dapat dinikmati oleh rakyat, kalau dikaitkan dengan hutang yang tertimbun, tidak sebanding dengan hasilnya. Alih-alih karena penciptaan pembangunan itu hanya kamuflase dari sebuah perilaku korup.
Peralihan pemerintahan dari jaman orde baru ke pemerintahan jaman reformasi, masih juga ‘setali tiga uang’. Tidak ada bedanya bagi rakyat. Kesengsaraan hidup dan kemiskinan masih tetap merajalela. Bahkan lebih meningkat. Janji-janji palsu masih selalu berdengung dan mendengung ditelinga rakyat yang relatif masih banyak sekali yang mudah ditipu. Dibuat bodoh dan dibodohi oleh gema kebohongan yang bersahut-sahutan seperti dalam lorong-lorong goa tanpa ada hasil yang dapat diraih.
Jaman inipun akhirnya menjadi jaman yang dirasakan oleh rakyat sebagai jaman yang membosankan dibawah kepemimpinan empat orang presiden dengan masing-masing karakternya yang tampak masih tetap menghasilkan pemerintahan yang hanya berbeda dalam kemasan. Perilaku korupsi bahkan tampak lebih menggila karena situasi yang rancu menjadi lebih dimanfaatkan oleh yang sudah terbiasa dengan perilakunya, sementara disisi yang lain, situasi yang rancu tersebut dimanfaatkan oleh mereka yang merasa belum mendapatkan kesempatan di pemerintahan sebelumnya, dengan ilmu ‘aji-mumpung’ yang dimiliki. Tidak peduli pada rakyat yang sudah amat sangat merindukan kesejahteraan yang ingin dirasakannya, atas adanya perubahan pemerintahan dan pergantian pemimpinnya.
Potret-potret yang memalukan tetapi dianggap sebagai potret-potret yang membanggakan hanya karena memiliki keyakinan bahwa rakyat tokh masih akan tetap dapat dibekap.
Teriakan rakyat yang terhimpit oleh kemiskinan dan bencana, dianggapnya sebagai bagian dari musik-musik klasik Beethoven atau Sebastian Bach atau Mozart yang enak didengar dan dinikmati. Atau musik bedug Kitaro yang bernuansa religi tetapi tetap saja tidak menyentuh hati.
Harapan rakyat tetap tinggal harapan. Kesejahteraan hanya sebuah angan-angan yang hanya bisa dibayangkan. Bahkan harapan yang dipergantungkan pada wakil-wakil rakyat yang sudah duduk dikursi empuknya sesudah mereka berhasil membeli suara rakyat dengan uang dan janji-janji, rakyat hanya disuguhi tontonan aneka macam sirkus orang-orang yang menguap, tidur, makan, dan aneka penampilan yang menggelikan. Dan yang terasa paling menyakitkan hati rakyat adalah: “Mengapa kursi yang telah dipercayakan untuk diduduki, yang diperoleh dengan cara berebut, justru ditinggal pergi? Ditinggal kosong seperti pemiliknya yang ompong?”
Keadaan yang benar-benar menjadi seperti sebuah potret yang amat memuakkan. (BAS240810)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar