Laman

Minggu, 12 September 2010

EKSPLOITASI PEREMPUAN DALAM IKLAN (Sebuah kritik)

Meskipun syah-syah saja membuat tema iklan dengan menggunakan gambar seorang perempuan seksi menurut ukuran mereka yang menganut konsep ‘seni untuk seni’, tetapi rasanya dibalik kata ‘syah’ itu tersembunyi kata-kata yang menyiratkan larangan menurut ukiuran moral dan agama. Masing-masing alasan dapat dipertanggung jawabkan dalam debat yang takkan pernah berakhir bila hanya mengikuti ukuran kepentingannya tanpa kesediaan memahami dari sisi mana sesuatu hal harus disetujui untuk dianggap dan dapat diterima ‘benar’.


Billboard iklan accu dengan gambar seorang wanita dalam tampilan yang ‘seksi’, kalau difikir-fikir tanpa melihat latar belakang alasan yang diada-adakan (dikait-kaitkan), sebenanrya tampak tidak nyambung. Alasan yang diada-adakan (dikait-kaitkan) adalah bahwa kekuatan (kualitas) accu itu dapat membuat mesin kendaraan langsung hidup ketika kunci starter di-‘on’-kan, laksana ‘gairah’ seorang laki-laki yang langsung muncul ketika melihat perempuan yang seksi dihadapannya. Tentu saja hal itu hanya suatu penggambaran yang dikaitkan dengan sebuah ke-jamak-kan dari perikehidupan seorang laki-laki.
Iklan televisi sebuah produk elektronik juga tampil dengan seorang perempuan dalam pakaian yang seksi. Bahkan perempuan yang menjadi modelnya, tampil dengan gaya gerak tubuh dan mimik yang, menurut ukuran moral dan agama, lebih seronok. Sehingga meskipun tampilannya tersebut dimaksudkan hanya sebatas dalam iklan, tetap tidak mencerminkan sebagai seorang perempuan yang patut menjadi panutan kecuali untuk yang bersifat hura-hura pribadi.
Diluar dua contoh diatas, saya berpendapat pasti masih banyak contoh-contoh iklan lain yang tema beriklannya sama atau serupa. Yang batasan etikanya menurut ukuran moral dan agama, tergantung dari siapa dan apa latar belakang kehidupannya. Norma agama (khususnya Islam) dengan kebebasan hidup ber‘hura-hura’ yang lepas dari ikatan moral, ibarat minyak dan air. Mereka takkan pernah bisa menyatu.

Di keadaan jaman yang kehidupan beragamanya tampak semakin mengedepan, ikllan-iklan yang masih menggunakan tema-tema seperti itu, bagi saya, adalah iklan-iklan yang hanya ingin mengeksploitasi keberadaan perempuan untuk sebuah kepentingan yang absurd. Padahal dengan sedikit mengubah cara berfikir yang lebih agamis, tidak peduli apakah itu Islam atau bukan, sebuah tema iklan dapat tetap dibuat dalam tampilan yang lebih menawan meski tetap menggunakan model seorang atau beberapa orang perempuan. Ungkapan ‘seni untuk seni’ yang diperhubungkan dengan kebutuhan tampilan seorang perempuan dalam iklan dengan gaya yang sensual, seharusnya dapat disesuaikan dengan perkembangan jaman agama yang menghendaki ‘ketertiban’ didepan umum. Ungkapan ‘seni untuk seni’ yang dikaitkan dengan kebebasan berekspresi yang keluar dari norma agama, sebaiknya hanya untuk kepentingan dan kehidupan pribadi. Membeli sebuah produk, lebih ditentukan oleh karena ‘kualitas’. Meski ada faktor lain yang dapat mempengaruhi. (BAS050910)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar