Merasa bangga untuk sebuah keberhasilan, apapun wujud keberhasilan itu, memang patut kita mensyukurinya sebagai hamba Allah yang teguh memegang ajaran agama. Itu bila terjadi atas suatu hal yang bersifat perorangan. Bila hal itu dikaitkan dengan ukuran kepentingan sebuah negeri, tidak semua keberhasilan dapat disebut membanggakan. Meskipun tetap harus disyukuri sebagai bagian dari rasa terima kasih kita kepada Allah yang selalu memberi pertolongan ketika kita menghadapi kesulitan.
Ketika rakyat negeri ini membutuhkan pekerjaan demi penghasilan, keberhasilan menjadi tenaga kerja, dimanapun tempatnya termasuk dinegeri orang, tentu menjadi sebuah keberuntungan yang membanggakan bagi orang yang bersangkutan beserta keluarganya. Namun, apakah keberhasilan menjadi tenaga kerja dinegeri orang dari seorang warga negara juga menjadi kebanggaan bagi pemerintahan didalam negeri sendiri? Seharusnya ‘tidak’. Tidak pada tempatnya pemerintah menjadi bangga karenanya. Karena, bagaimanapun juga, rakyat dari sebuah negeri yang berada dinegeri lain dengan hanya sekedar menjadi pekerja kasar (kuli bangunan dan perkebunan, pembantu rumah tangga atau perawat) yang tidak membutuhkan keahlian tertentu (spesialis),
mencerminkan bahwa negeri asal pekerja kasar itu sedang dalam keadaan yang tidak ‘sehat’ kehidupan kesejahteraan perekonomiannya. Keadaan tersebut juga menjadi cermin dari kualitas pemerintahan yang tidak ‘sehat’ karena tidak mampu menyediakan lapangan kerja bagi rakyatnya sendiri. Padahal negeri ini memiliki kekayaan dan sumber daya alam yang (selalu dibanggakan) melimpah. Yang dengan kekayaannya itu seharusnya pemerintah mampu berbuat jauh lebih baik (menciptakan lapangan kerja) untuk kepentingan rakyat yang hidupnya harus disejahterakan. Seharusnya pemerintah malu terhadap rakyatnya sendiri karena tidak mampu memegang amanah memanfaatkan kekayaan alam untuk sebesar-besarnya kepentingan rakyat. Perjuangan rakyat membela negara dengan jiwa dan raga, menjadi sia-sia.
Masih dengan dasar bahwa negeri ini memiliki kekayaan dan sumber daya alam yang melimpah. Kalau saja pemerintah mampu memegang amanah mengelola kekayaan dan sumber daya alam tadi dengan baik demi sebesar-besarnya kepentingan rakyat sendiri, kitapun, terutama pemerintah, tidak perlu membangga-banggakan negeri lain (Malaysia) sebagai salah satu investor terbesar dinegeri ini. Kita yang justru seharusnya bangkit untuk menjadi investor dinegeri lain. Bukan sebaliknya. Kalaulah pemerintah tetap membutuhkan investor dari negeri lain, tetapi yang situasinya tidak membuat pemerintahan negeri ini menjadi ‘penurut’ yang dapat didikte.
Semua perilaku pemerintah yang tercermin dalam pemberitaan media masa berkenaan dengan hubungan Indonesia – Malaysia yang membanggakan jumlah ekspor tenaga kerjanya dan membanggakan Malaysia sebagai salah satu investor terbesarnya, memperlihatkan dan menyiratkan ‘kelemahan’ pemerintahan didalam negeri sendiri yang seharusnya tidak perlu terjadi. Apalagi negeri lain itu hanya sebesar negeri Malaysia yang tidak memiliki kekayaan dan sumber daya alam seperti Indonesia yang bahkan kemerdekaannyapun diperolehnya sebagai ‘hadiah’.
Apakah barangkali, kita memang ingin menjadi bangsa yang senang dilecehkan? Menjadi bangsa yang senang berbangga-bangga diri dengan keindahan bungkus luar tetapi isinya sangat-sangat memprihatinkan? Seperti ‘indah’nya pohon liang-liu dengan lambaian daunnya, tetapi didalam batang pohonnya keropos termakan rayap? Kita tidak perlu berbangga diri dengan hal-hal yang tidak patut untuk dibanggakan. (BAS040910)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar