Laman

Minggu, 28 November 2010

MEMAHAMI ALLAH SEBAGAI NAMA YANG KEKAL BAGI DZAT MAHA TUNGGAL (Sebuah catatan dan opini)


            ALLAH, bagi sementara orang diluar Islam, rupanya diyakini masih dianggapnya sebagai ‘bukan’ nama. Dengan angggapan seperti itu, tersirat didalamnya kesimpulan yang mengarahkan kepada pengertian bahwa ALLAH menjadi seperti dipersamakan dengan ‘benda’ yang belum punya nama. Sehingga mereka (merasa perlu untuk0 terus mencari-cari apa nama Allah yang sebenarnya dari bermacam sumber acuan dan mengkaji berbagai literatur yang mereka yakini dapat memberi petunjuk, yang pada akhirnya membawa mereka sampai pada kesimpulan bahwa nama Allah yang sebenarnya adalah ILAHI  Nama ILAHI diyakini sebagai nama Yang Akan Kekal Selama-lamanya..(Brosur: NAMA ILAHI Yang Akan Kekal Selama-lamanya. – Penerbit: Perkumpulan Siswa-siswa Alkitab, Jakarta. – The Devine Name That Will Endure Forever, Indonesian (na-IN) – Made in Japan).
Sayangnya, didalam sumber acuan dan literatur yang menjadi bahan kajiannya tidak menunjukkan adanya tanda-tanda memasukkan Al Qur’an sebagai salah satu sumber acuan, untuk menguji kebenaran yang mereka yakini bahwa nama Allah adalah ILAHI yang akan kekal selama-lamanya. Mengingat Al Qur’an juga merupakan Kitab yang memuat ajaran kebenaran (hukum-hukum) yang diturunkan menjadi penuntun hidup manusia oleh dan dari sumber yang sama dengan yang menurunkan Kitab Taurat dan Injil yang menjadi anutan mereka. Yaitu ALLAH. Yang oleh Allah sendiri, Al Qur’an tersebut telah dinyatakan-Nya sebagai penyempurna Kitab-kitab (Taurat dan Injil) yang telah terlebih dahulu diturunkan-Nya. Bahkan juga dibakukan sebagai kitab suci yang tidak akan berubah dan tidak boleh diubah dari bahasa aslinya kedalam bahasa apapun yang ada didunia demi dan untuk menjaga keaslian dan kesuciannya.
Sebagai manusia yang sudah bersedia menghambakan diri menyembah kepada Allah Yang Maha Esa dengan mempercayai seluruh ucapan para Nabi utusan-Nya sebagai kebenaran, mencari kebenaran penetapan Al Qur’an sebagai penyempurna Kitab Taurat dan Injil terlebih dahulu, pada pendapat saya, masih lebih penting dan utama dibanding mencari-cari ‘apa nama’ Allah yang sebenarnya. Termasuk mengkaji kebenaran ucapan Nabi Isa AS yang disampaikannya kepada Bani Israil, bahwa akan datang seorang Rasul sesudah dirinya bernama Ahmad (Muhammad) dengan membawa bukti-bukti yang nyata (Qur’an S.61, Ash-Shaff: 6) sebagai bagian lain yang dapat melengkapi kajiannya terhadap kebenaran Al Qur’an. Sehingga dari hasil kajian tersebut, akan dapat lebih terlihat esensi kebenaran yang dicari. Baik untuk kepentingan memperkuat keyakinannya sendiri, atau bila berkehendak mengabarkannya keluar dari entitasnya. Bagi orang Islam sendiri, nama ALLAH sudah menjadi kebenaran yang mutlak.
Fakta mempermasalahkan ‘nama’ Allah menyiratkan tanda adanya ‘penghilangan’ ucapan Nabi Isa AS tentang akan datangnya Rasul Muhammad, yang dapat dikaitkan dengan Nama ALLAH.
Bahirah, seorang Rahib Kristiani pun mempercayai kehadiran Muhammad sebagai Rasul Allah ketika melihat tanda adi-alami yang sudah diisyaratkan kepadanya, yang terdapat dipunggung antara kedua bahu Nabi Muhammad SAW, saat Rahib tersebut mengundang makan beliau untuk membuktikannya, ketika berada di Syria. – Wlliam E. Phipps: Muhammad dan Isa).
Bila ucapan (pernyataan) Nabi Isa AS tersebut ditulis didalam Al Qur’an, pasti seharusnya tertulis pula didalam Kitab Injil, sebagai Kitab yang diturunkan dijamannya (jaman Nabi Isa AS). Karena Al Qur’an memuat seluruh kebenaran kisah kehidupan dan perjuangan para Nabi/Rasul Allah dalam menjalankan tugas-tugas kenabiannya menyampaikan dan menegakkan hukum-hukum Allah, yang tidak dikurangkan dan tidak dilebihkan. Sehingga dengan demikian, meyakini ILAHI sebagai nama Allah yang akan kekal selama-lamanya, menjadi lebih tidak berdasar. Dilain sisi juga mencerminkan perilaku yang menjadi seperti sudah ‘tidak’ lagi mempercayai Nabi Isa AS sebagai Nabinya sendiri yang menjadi panutan yang harus dimuliakan. Yang kalau direnungkan, bukantah ini sebuah pegingkaran? Pengingkaran yang bukan saja terhadap Nabinya sendiri, tetapi juga pengingkaran terhadap Allah berikut ajaran-ajaran kebenaran-Nya
Pertanyaan ‘Nama Apa’ yang mereka munculkan dalam konteks judul artikel “Dikuduskanlah Nama-Mu” – Nama Apa?” (Halaman 3, brosur NAMA ILAHI Yang Akan Kekal Selama-lamanya) memperkuat kesimpulan (menganggap Allah sebagai benda yang belum punya nama) yang tersirat dalam penganggapan ILAHI adalah nama yang akan kekal.
Suatu pemahaman yang pada pendapat saya sangat bertentangan dengan ajaran kebenaran agama Islam yang dibawa dan disebar luaskan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai tuntunan hidup bagi manusia yang berlaku secara universal. Bukan hanya untuk segolongan umat manusia, atas perintah Allah, yang juga menjadi Tuhannya Nabi Isa AS. Yang menetapkan agama Islam sebagai agama terakhir yang diridloi, dan menetapkan Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi terakhir, yang tiada lagi Nabi (termasuk agama) lain diturunkan sesudahnya.

          Barangkali pemahaman tersebut diatas dapat dimengerti mengingat ajaran kebenaran Allah yang mereka terima, yang mereka fahami, yang mereka yakini dan yang mereka anut, yang melatar belakangi keyakinannya, hanya sebatas ajaran kebenaran Allah yang diturunkan dan berkembang di keadaan kehidupan manusia jaman Nabi Adam AS sampai dengan berakhirnya jaman kehidupan Nabi Isa AS. Sepeninggal Nabi Isa AS, ajarannya yang berkembang ditenggat waktu sampai dengan masa ke-Nabi-an Muhammad SAW, menjadi banyak yang menyimpang dan terpecah. Ajaran kebenaran Allah yang disebar-luaskan oleh Nabi Muhammad SAW setelah ditetapkan menjadi utusan-Nya sebagai pemberi penjelasan atas hukum-hukum Allah yang sudah dibawa oleh Nabi Isa AS dan para Nabi sebelumnya, tidak mereka perhatikan dan tidak mereka pedulikan. Karena Nabi Muhammad bukan berasal dari golongan yang sama dengan golongan tempat asal Nabi Isa AS, yang menganggap diri mereka menjadi bangsa pilihan (kekasih Allah). Meskipun dalam penyampaian penjelasannya, Nabi Muhammad SAW selalu menyertainya dengan peringatan bahwa Allah akan memberikan azab dan akan melakukan hizab terhadap manusia yang mengingkari hukum-hukum-Nya.                 
Dalam konteks tersebut memberikan gambaran yang memunculkan kesimpulan bahwa keberadaan Nabi  Muhammad SAW sebagai utusan Allah Yang Maha Esa, yang juga telah mengutus Nabi Isa AS, tidak masuk didalam hitungan dan pemikiran mereka. Diakui atau tidak, mereka telah membatasi diri untuk menolak kehadiran Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah SWT. Yang sama artinya dengan mengingkari ucapan Nabinya sendiri, Isa AS, yang telah memberitahu akan kehadirannya (Nabi Muhammad SAW). Sehingga pada akhirnya menjadi seperti membuang kesempatan untuk dapat menemukan ‘kebenaran’. Termasuk ‘kebenaran’ untuk meyakini bahwa ALLAH adalah Nama Yang Kekal dan Tunggal, yang tidak memiliki batas awal dan batas akhir. 
Nama Yang Kekal untuk Sang Pencipta mayangda (dunia).
Nama yang sudah ada sebelum alam raya ini sendiri ada.
Allah adalah Allah yang tidak membutuhkan nama lain. Baik yang tersamar atau yang disamarkan.
Mengingkarinya, sama saja dengan menciptakan dosa besar tak berampun…
  
          Tulisan ini dibuat hanya untuk catatan pengetahuan yang bisa dinilai dari sisi logika berfikir dalam mengetengahkannya. Bukan dengan maksud untuk ikut campur mengurusi hal yang menjadi pemahaman dan keyakinan mereka yang masih belum dapat menerima dan meyakini ALLAH adalah nama yang kekal, sejauh mereka tidak membawanya keluar entitas. Meskipun didalam tulisan ini ada bagian yang dapat dianggap seperti ‘munggugat’. Dan meskipun terbetik juga maksud dan keinginan untuk mengetengahkannya sebagai isyarat menolak pemahaman dan keyakinan mereka. Karena pada pendapat saya, pemahaman dan keyakinan mereka yang menganggap bahwa (kata) ALLAH masih ‘belum’ menjadi nama, tidak pada jalan yang lurus yang telah ditunjukkan oleh para Nabi/Rasul utusan-Nya. Termasuk yang ditunjukkan didalam ajaran kebenaran dan hukum-hukum yang telah disampaikan oleh Nabi Isa AS, yang berasal dari satu Tuhan yang sama (Allah).
Tulisan ini lebih tepat kiranya bila dimaksudkan sebagai pembanding terhadap cara meyakini dan meng-imani serta menyikapi suatu ajaran kebenaran yang terdapat didalam hukum-hukum yang datangnya dari Tuhan Yang Maha Esa, yang bernama ALLAH. Atau dapat pula dimaksudkan sebagai suatu pemberitahuan informal untuk direnungkan bagi yang berkehendak menujukan kemauannya untuk hanya beriman kepada-Nya, Allah Yang Mahe Esa, yang memiliki banyak sekali sifat-sifat ke-Maha-an.

          Didalam ajaran agama Islam yang saya anut, memberitahukan ada dua jenis ‘kebenaran’: Yang pertama adalah kebenaran yang tinggal menerima dan meyakininya dengan iman (kepada Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Berkehendak) bahwa kebenaran itu sudah betul-betul benar. Dan mutlak. Yang tidak lagi memerlukan pembuktian melalui pengkajian dengan ilmu pengetahuan apapun. Karena ilmu-ilmu tersebut dipastikan oleh Allah, tidak akan mampu menjangkaunya. Dan nama ALLAH adalah salah satu dari jenis kebenaran yang pertama itu. Yang hanya dapat difahami dengan keyakinan dan ketaatan bahwa diluar diri manusia ada ‘kekuatan’ pencipta tersembunyi yang sejak awal terciptanya dunia, sudah bernama ALLAH. Yang kedua adalah jenis kebenaran yang masih dapat dan boleh dikaji dengan pembuktian berdasarkan ilmu pengetahuan. Karena manusia, bila masih ragu dan belum dapat menerima serta meyakini dan mempertanyakannya, memang diberi kesempatan (oleh Allah) untuk melakukannya, Termasuk kedalam jenis kebenaran yang kedua ini adalah tentang keharusan meyakini ‘agama’ atau ‘kepercayaan’ yang akan menjadi anutan sebagai tuntunan dan bekal perjalanan hidup manusia menuju ke kehidupan akhirat agar terhindar dari dosa tak berampun karena telah mempersekutukan Allah dengan yang selain-Nya.

          Pada pendapat saya yang awam agama, mengetahui sejarah kehidupan dan perjuangan para Nabi dan Rasul secara lengkap (dari masa awal kehidupan Nabi Adam a.s. sampai dengan masa akhir kehidupan Nabi Muhammad SAW) dalam menjalankan tugas yang dibebankan Allah kepada mereka sebagai penyampai ajaran kebenaran dan kebaikan, pemberi penjelasan dan penyampai peringatan, akan dapat mempertajam penilaian atas segala hal yang telah menjadi ketetapan-Nya. Dan mempertegas bahwa ALLAH adalah Nama yang sudah kekal.  Dan akan tetap kekal bahkan ketika alam raya ini dihancurkan oleh Penciptanya sendiri sesuai batas waktu yang telah ditetapkan-Nya. Bukan dikonotasikan sebagai ‘benda’ yang masih dipertanyakan ‘nama’nya. 
Mencarikan nama padanan yang selain-Nya, justru akan menjurus kepada dapat menimbulkan pemikiran dan pemahaman memper-TUHAN-kan yang lain. Yang sedikitpun tidak dikehendaki dan tidak diajarkan oleh Tuhan Seru Sekalian Alam, yang diperkenalkan oleh para Nabi-Nya dengan nama ALLAH. 
(Perjanjian Lama: Samuel Pertama 25: 32; Kitab Raja-raja Yang Pertama I: 48)
(Al Qur’an: QS.7, Al A’raaf: 65, 73, 85)

          Dalam pemahaman saya, ALLAH adalah ‘nama’ untuk menyebut Dzat Maha Tunggal tanpa wujud, yang tidak perlu diragukan dan tidak perlu lagi mencari-cari nama lain untuk menyebut-Nya.
Allah adalah Roh Yang Mahasempurna. Yang keberadaannya tidak mengenal batas ruang dan waktu. 
Kalaupun didalam Islam mengenal sebutan nama-nama Allah yang lain, nama-nama itu lebih dalam kaitan dengan pengertian tentang sifat-sifat yang dimiliki-Nya. Nama-ama tersebut yang berjumlah Sembilan Puluh Sembilan, ada didalam Al Qur’an, meskipun belum tentu dapat dihafal secara keseluruhan oleh setiap umat. Baik yang dalam bahasa Al Qur’an ataupun yang dalam bahasa terjemahannya.
Didalam Islam yang saya fahami, tidak mengenal kata ILAHI sebagai kata ganti ‘nama’ untuk Allah. Arti kata ILAHI itu sendiri adalah mempunyai sifat-sifat Tuhan (Allah). (Kamus Umum Bahasa Indonesia, WJS Purwadarminta – Balai Pustaka)  Kalaupun misalnya kata ILAHI sering dijumpai dalam ucapan dan tulisan, juga bukan dalam pengertian bahwa itu adalah nama-Nya seperti yang dikemukakan dan dimaksudkan didalam brosur NAMA ILAHI Yang Akan Kekal Selama-lamanya.

          Didalam pengantarnya (terjemahan bebas), buku Ninety-Nine Names of ALLAH (Shems Friedlander with al-Hajj Shaikh Muzafferedin – Wildwood Houe/Gunung Agung – Gunung Agung (S) Pte Ltd Singapore 1981) menyatakan bahwa Allah memiliki 3.000 Nama sebutan (menurut sifat-Nya). Seribu Nama hanya diketahui oleh para malaikat, 1.000 Nama hanya diketahui oleh para Nabi/Rasul, 300 Nama tersebut dalam kitab Perjanjian Lama, 300 Nama tersebut didalam Kitab Zabur (Mazmur Daud), 300 Nama tersebut didalam Kitab Perjanjian Baru, dan 99 Nama tersebut didalam Al Qur’an. Dari semua Nama yang sudah tersebut menjadi berjumlah 2.999 itu, tinggal Satu Nama dengan yang disebut Ism Allah al-a’zam: Allah Yang Maha Agung. Yang dengan nama itu Allah menyatakan: Mintalah kepada-Ku atas Namaku (Allah), (bukan atas nama yang selain-Nya), karena tiada nama (Tuhan) lain selain Allah.

          Mengambil kesimpulan dari sejarah keberadaan diutusnya para Nabi/Rasul oleh Allah untuk menyampaikan ajaran kebenaran yang terdapat didalam hukum-hukum-Nya demi kebaikkan umat manusia menjalani kehidupannya di dunia, pada akhirnya, melalui Nabi Muhammad SAW, Allah menyempurnakan hukum-hukum-Nya yang terdahulu itu (yang disampaikan melalui para Nabi utusan-Nya sebelum Nabi Muhammad SAW) dan menetapkannya sebagai yang terakhir.
Fakta tersebut membuat saya menjadi terfikir untuk berpendapat bahwa kehidupan umat manusia sebelum diutus-Nya Nabi Muhammad SAW, ternyata belum mampu (atau tidak mau) untuk menjadi umat manusia yang taat pada hukum-hukum Allah, dan taat untuk menyembah hanya kepada Allah serta meng-Agungkan nama-Nya. Sehingga oleh karena itu, dalam kesempurnaan hukum-hukum terakhirnya, Allah memberikan dan menetapkan petunjuk yang dibakukan, yang harus diikuti dan ditaati, bagaimana umat manusia menjadi dapat selalu mengingat dan meng-Agungkan nama-Nya agar terhindar dari kehidupan yang sesat dan salah arah. Yang menyimpang dari yang diperintahkan-Nya.
Salah satu dari ketetapan itu adalah kewajiban mendirikan, menegakkan dan melakukan shalat (sembahyang) lima waktu (Isya, Subuh, Lohor, Ashar dan Maghrib). Baik yang dilakukan secara sendiri-sendiri ataupun secara berjamaah (bersama banyak umat yang lain). Shalat lima waktu yang tidak boleh dilalaikan itu, bila sudah tiba waktunya, selalu diberitahukan melalui kumandang adzan yang akan selalu terdengar (nama ALLAH Yang Maha Besar dalam satu bahasa yag sama yang tidak akan pernah ter-terjemahkan kedalam bahasa yang lain) susul-menyusul dihampir setiap saat tanpa putus disepanjang hari. Dari waktu ke waktu, di seluruh belahan bumi akibat perbedaan waktu yang terus bergeser dari satu wilayah ke wilayah yang lain. Didalam shalat wajib dan adzan, yang selalu memperdengarkan nama ALLAH menunjukkan dan memberi isyarat bahwa Nama ”ALLAH” itu sudah kekal. Karena shalat wajib dan adzan sudah menjadi satu kesatuan didalam Islam yang akan terus terjadi dan dikumandangkan sampai akhir jaman. Belum lagi penyebutan nama Allah didalam ibadah-ibadah wajib yang lainnya, dan sunah.

          Sembilanpuluh Sembilan Nama (sifat-sifat) Allah yang tersebut didalam Al Qur’an, dalam buku Ninety-Nine Names of ALLAH disebutkan sebagai: Ar-Rahmaan, Ar-Rahiim, Al-Malik, Al-Quddus, As-Salaam, Al Mu’min, Al-Muhaymin, Al-Aziz, Al-Jabbar, Al-Mutakabbir, Al-Khaliq, Al-Baari’, Al-Musawwir, Al-Ghaffaar, Al-Qahhaar, Al-Wahhaab, Ar-Razzaaq, Al-Fattaah, Al-‘Aliim, Al-Qaabid, Al-Baasit, Al-Khaafid, Ar-Raafi’, Al-Mu’izz, Al-Muzill, As-Sami’, Al-Basiir, Al-Hakam, Al-‘Adl, Al-Latiif, Al-Khabiir, Al-Haliim, Al-‘Aziim, Al-Ghafuur, Ash-Shakur, Al-‘Ali, Al-Kabiir, Al-Hafiiz, Al-Muqiit, Al-Hasiib, Al-Jaliil, Al-Kariim, Ar-Raqiib, Al-Mujiib, Al-Waasi’, Al-Hakiim, Al-Waduud, Al-Majiid, Al-Baa’ith, Ash-Shahiid, Al-Haqq, Al-Wakiil, Al-Qawii, Al-Matiin, Al-Walii, Al-Hamiid, Al-Muhsii, Al-Mubdii, Al-Mu’iid, Al-Muhyii, Al-Mumiit, Al-Hayy, Al-Qayyuum, Al-Waajid, Al-Maajid, Al-Waahid, Al-Ahad, As-Samad, Al-Qaadir, Al-Muqtadir, Al-Muqaddim, Al-Mu’akhkhir, Al-Awwal, Al-Aakhir, Az-Zaahir, Al-Baatin, Al-Waali, Al-Muta’aalii, Al-Barr, At-Tawwaab, Al-Muntaqim, Al-‘Afuw, Ar-Ra’uuf, Maalik-Ul-Mulk, Dhuul-Jalaal-Wal-Ikraam, Al-Muqsit, Al-Jaame’, Al-Ghanii, Al-Mughni, Al-Maani’, Ad-Daarr, An-Naafi’, An-Nuur, Al-Haadii, Al-Badii’, Al-Baaqii, Al-Waarith, Ar-Rashiid, As-Sabuur. (ART11all.131110

Tidak ada komentar:

Posting Komentar