Laman

Minggu, 10 Oktober 2010

BUKAN KARENA MAKIN KLASIK MENJADI MAKIN MIRIP (Sebuah pelurusan ungkapan/pernyataan)

Catatan kecil untuk situs Khanisah Ortodoks Syria.

Saya bukan ahli agama dan bukan pula penafsir. Pengetahuan saya tentang agama (Islam yang saya anut), masih sangat jauh dari memadai untuk dapat bertukar fikiran. Apalagi untuk berdebat, tentang hal-hal yang berkaitan dengan agama dan perikehidupan bertoleransinya antar sesama dari pemeluk agama yang lain. Pengetahuan saya tentangnya, masih sebatas mengetahui karena membaca dari bahan-bahan bacaan yang tersedia (termasuk kitab suci agama) dan mendengar dakwah atau ceramah serta mencoba memahami apa yang tersirat didalamnya dari sisi kebaikan dan kebenarannya, dengan landasan logika dan akal fikiran. Kecuali terhadap sesuatu ketentuan Allah yang mutlak untuk harus di-imani sebagai bagian dari keyakinan agama (Islam) yang saya anut. Dapat pula dikatakan, pengetahuan dan pemahaman saya tentang hal tersebut tadi, masih hanya sebatas ‘kulit’ yang paling luarnya.


Dari satu situs internet yang kutipan tertulisnya saya baca dibawah judul KHANISAH ORTODOKS SYRIA dengan sub judul Agama Nasrani makin klasik makin mirip Islam, membuat saya menjadi tertarik untuk mencoba mengemukakan pendapat dari alam pemikiran awam menurut pemahaman pribadi barangkali dapat membantu memperjelas maksud dari yang tertulis dalam judul diatas yang saya sebut sebagai pelurusan ungkapan/pernyataan. Atau barangkali juga dapat dan lebih tepat dimaknai sebagai upaya membantu pelurusan pemahaman atas suatu urutan kejadian jaman ke’nabi’an (sejarah kenabian menurut yang tercatat dalam kitab suci agama) yang memang dari sananya telah diatur sedemikian rupa oleh Sang Pencipta sesuai dengan rencana rahasia maha besar ciptaan yang menjadi hak prerogatif-Nya, yang tidak sesuatupun makhluk atau seorang manusiapun dapat merubahnya.

Apakah judul diatas sebagai sebuah pelurusan ungkapan/pernyataan atau dalam pengertian dimaknai sebagai pelurusan pemahaman atas suatu urutan kejadian yang dikehendaki Allah, penulisannya bukan atas dasar ‘keahlian’ dan bukan atas dasar ‘kajian’ mendalam sehingga dimungkinkan dapat menimbulkan beda pendapat.

Maksud dari penulisan ini lebih karena logika awam ketika akal fikiran mencoba bekerja untuk memahami urutan kejadian kelahiran agama-agama Allah yang ada didunia (yang juga disebut sebagai agama samawi) yang dibawa oleh para Nabi atas kehendak Yang Maha Kuasa dan Esa. Yang telah menunjuknya sebagai utusan dengan tugas sebagai pembawa ajaran kebaikan dan kebenaran serta hukum-hukum Allah bagi kepentingan hidup manusia, dan ada pula yang sebagai pemberi penjelasan dan peringatan.
Alasan yang melatar belakangi perubahan dari kejadian yang terlebih dulu menjadi yang kemudian dibawah kehendak Allah, juga diutarakan hanya dengan pemahaman yang didasarkan pada logika awam dan akal fikiran. Yang rasanya, dapat dilakukan oleh siapapun yang mampu menghidupkan ‘kepakaan’nya tanpa keharusan melalui pendalaman kajian. Kecuali bila seseorang benar-benar ingin mengetahuinya lebih lanjut untuk kepentingan mencari dan memperoleh kebenaran yang dapat dipertanggung jawabkan menurut logika iman dan keyakinan, dengan tujuan yang diarahkan untuk menentukan ‘jati-diri’ kepercayaan (agama) yang akan dan ingin dianutnya. Terlepas dari itu, semua terpulang kembali kepada masing-masing individu.

Tulisan yang hanya secara garis besar dan ringkas atas suatu peristiwa kenabian yang melahirkan agama besar untuk masyarakat pada saat itu dan menjadi kisah yang ditulis didalam kitab suci agama (tentang Nabi Ibrahim, Isa dan Muhammad) untuk kepentingan umat manusia, bukan bermaksud mengesampingkan keberadaan nabi-nabi lain yang hidup dijaman sebelum kelahiran dan keberadaan ketiganya, tetapi tidak sesudah Nabi Besar Muhammad saw. Mengetengahkannya tetap lebih menekankan dari sisi logika dan akal fikiran. Dalil yang dapat memperkuat pandangan dalam tulisan ini yang dapat diambil dari ayat-ayat yang tertulis didalam Al Qur’an pun sengaja tidak disertakan agar terbebas dari sifat keberpihakkan pemikiran, yang bisa jadi hanya akan menimbulkan ‘penilaian negatif’ pembaca lain dari luar Islam. Sehingga menjadi tidak mau memahami ‘kenyataan’ yang sebenarnya lebih dapat dipertanggung jawabkan untuk diyakini bila mendasarkan pada satu sumber keyakinan yang ‘sama’. Yaitu Allah Yang Esa.

Ungkapan/pernyataan agama Nasrani makin klasik makin mirip Islam, sebenarnya bukan sesuatu yang aneh dan menimbulkan keheranan. Bagi saya, itu hanya suatu ungkapan/pernyataan yang biasa saja ketika akal kita sampai kepada pemikiran bahwa perkembangan agama Allah yang lahir kemudian, memiliki sumber yang sama. Yaitu agama Nabi Ibrahim, yang juga disebut sebagai agama Hanif (lurus). Sehingga dengan sendirinya kebaikan dan kebenaran ajaran yang ada didalamnya, termasuk tata cara peribadatannya, pasti terbawa dan menjadi bagian dari agama baru yang ditetapkan Allah, dengan perbaikan-perbaikan (penyempurnaan bertahap) sesuai kondisi masyarakat pada saat itu, yang diajarkan oleh dan atas kehendak Allah melalui nabi-Nya.
Mencari kebenaran agama (Allah), seharusnya bukan untuk menjadi penganut yang justru surut kebelakang. Melihat kemasa lalu dimaksudkan agar dapat memahami kisah-kisah yang tersaji dalam kitab-kitab Allah yang sudah diturunkan terlebih dahulu, sebagai bahan melakukan kajian dan pembanding antara agama Allah yang lama dengan yang diturunkan kemudian. Bukan berarti menjadikannya sebagai agama yang (karena menganggapnya sebagai ’asli’) harus diyakini dan dianut dijaman yang dunianya dikehendaki oleh Allah sebagai ujian bagi manusia untuk memilih antara jalan yang benar dan yang salah, setelah Allah mengakhirinya dengan menetapkan agama dan kitab suci yang sudah disempurnakan (Islam). Karena semua kebaikan dan kebenaran dari ajaran agama yang lama sebagai tuntunan hidup bagi manusia, sudah ditransfer kedalam agama (Allah) yang baru dengan kesempurnaan ilahi sesuai kehendak-Nya.
Kita sebagai makhluk yang dianugerahi akal, tidak boleh lupa bahwa ketika kita meyakini Allah hanya Satu bagi seluruh isi dunia (dan umat manusia) dengan segala sifat ke-Maha-an kehendak dan kekuasaan yang ada didalamnya, kitapun seharusnya meyakini bahwa ajaran kebaikan dan kebenaran yang diturunkan kemudian oleh Allah, pasti memiliki kebaikan maksud dan kebenaran tujuan bagi umat manuisa dalam kesempurnaan yang hanya Allah yang mengetahuinya. Dan oleh karena itu, seharusnya menjadi ‘pegangan’ tunggal sebagai tuntunan yang harus dianut.

Allah merupakan sumber yang sama dan Tunggal bagi kelahiran agama Hanif (dijaman kenabian Ibrahim), agama Nasrani (dijaman kenabian Isa) dan agama Islam (dijaman kenabian Muhammad) yang dinyatakan-Nya sebagai agama terakhir yang telah disempurnakan atas agama (dan kitab-kitab) yang telah diturunkan-Nya terlebih dahulu.. Meski disela jaman-jaman itu (jaman diantara kenabian Ibrahim ke Isa dan ke Muhammad) tidak tertutup kemungkinan muncul faham-faham baru karena perkembangan perbedaan tafsir atas suatu keyakinan pada agama yang dianutnya ketika itu. Yang karena ‘kepentingan’ keyakinannnya, tetap dipertahankannya sampai kini, dengan perubahan dan perkembangan yang, saya membayangkannya, tentu bervariasi dan fluktuatif.
Ketika kemudian kita berfikir untuk tidak mau meyakini dan mempercayai perkembangan adanya agama Allah yang baru yang keberadaannya atas kehendak yang sudah diatur-Nya, tidak mustahil bahwa diluar sadar, kita telah mengakui adanya Allah yang selain-Nya. Yang sama saja artinya dengan telah mengingkari ajaran Allah tentang kebaikan dan kebenaran yang lurus yang dibawa oleh Nabi Ibrahim as, Nabi Isa as dan Nabi Muhammad saw (termasuk nabi-nabi Allah yang lain yang tidak tersebut disini) yang selalu disampaikan kepada umatnya dalam penyampaian yang intinya selalu senada: “Tuhanku adalah Tuhanmu. Yaitu Allah Yang Esa. Yang Tunggal. Tidak beranak dan tidak diperanakkan. Yang maha kuasa dan maha berkehendak. Yang maha mendengar dan maha mengetahui atas segala sesuatu yang ada dilangit dan yang ada dibumi. Baik yang jauh maupun yang dekat. Baik yang tampak maupun yang tersembunyi”.

Kitapun seharusnya mau menyadari bahwa ajaran kebaikan dan kebenaran yang diturunkan Allah yang kemudian diakhirkan (oleh Allah) dengan penyempurnaan-penyempurnaan dijaman kenabian Muhammad saw, bukan dengan maksud agar manusia (setelah mengetahui, mempelajari dan memahami kisah-kisah jaman kenabian masa lalu), menjadi menyurutkan diri kebelakang. Kembali kejaman abad masa silam yang Allah sendiri tidak menghendakinya. Masa silam hanya untuk diketahui tentang terjadinya proses pembaharuan menuju kebaikan dan kebenaran yang lebih baik yang dilakukan Allah secara bertahap yang telah diatur sesuai rencana dalam kehendak-Nya. Yang kita, rasanya, dapat menafsirkannya sebagai agar dapat menjadi bahan pembelajaran bagi manusia masa demi masa untuk memilih jalan hidup antara yang baik dan yang buruk. Bekal menuju ke kehidupan akhirat dengan cara yang kemudahannya pasti sudah diukur dalam pengetahuan Allah untuk dapat diikuti dan dilaksanakan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki manusia dalam keseimbangan yang tidak perlu lagi untuk sampai harus dilebih-lebihkan.
Islam, sebagai agama Allah terakhir yang diturunkan, dengan sendirinya pasti membawa hal-hal yang baiknya (termasuk tata-cara peribadatan) dari sumber utama (agama Ibrahim). Begitu pula ketika agama Nasrani lahir dan dalam perkembangan, pasti tidak bisa lepas dari membawa apa yang baik dari agama Ibrahim tersebut. Sehingga dari pemahaman ini kita menjadi tahu bahwa bukan karena (agama Nasrani) makin klasik (sehingga) menjadi makin mirip Islam. Tetapi karena apa yang ada didalam ajaran agama Allah yang (dianggap) kuno atau klasik (bila dilihat dari kacamata saat ini) termasuk tatacara peribadatannya yang benar-benar masih asli, kemudian disempurnakan oleh dan atas kehendak Allah, dan dijadikannya sebagai bagian dari ajaran agama Allah yang baru.
Kitapun dengan kepercayaan yang sama-sama mengakui satu Allah, kalau mau jujur dan tidak munafik setelah mengetahui sejarah kelahiran agama-agama Allah yang diturunkan kedunia ecara bertahap, seharusnya mau mengakui bahwa yang disebut agama yang benar dikehidupan jaman yang ‘modern’, adalah Islam. Islam diturunkan terakhir dengan kesempurnaan atas kehendak-Nya dengan Nabi Muhammad yang juga ditetapkan atas kehendak-Nya sebagai Nabi/Rasul terakhir (penutup) dengan tugas (menerima perintah/wahyu) untuk memberi penjelasan (atas ajaran kebaikan dan kebenaran yang telah dibawa oleh para nabi sebelumnya) dan peringatan kepada keseluruhan (universal) umat manusia. Bukan hanya untuk kepentingan sekelompok warga negara atau suku bangsa.

Bila sebuah ‘kebenaran’ dalam beragama belum diperoleh karena menyangsikan ajaran-ajaran yang ada didalam kitab sucinya dengan menganggap sebagai hasil rekayasa tulisan olah-fikir manusia, kajian mendalam atas kebenarannya dapat dilakukan dengan memperbandingkan isi antara yang satu terhadap yang lainnya dengan basis pemikiran yang netral. Baik terhadap kitab suci agama Hanif (Ibrahim as), kitab suci agama Nasrani (Isa as) dan kitab suci agama Islam (Muhammad saw), secara internal menurut masing-masing isi kitab suci itu sendiri dengan mendasarkan pada logika dan akal fikiran dari sejarah diturunkannya kitab-kitab tersebut, sampai kepada pembandingan secara silang.
Semua kajian harus bersandarkan dan berangkat dari sisi iman dan keyakinan atas dasar kepercayaan pada Allah Yang Esa, sehinga keraguan menjadi dapat dihilangkan. Bukan hanya dari sisi ilmu pengetahuannya yang pasti selalu dapat berjalan seiring. Tetapi juga karena keduanya memiliki sisi-sisi yang sepertinya terasa bertentangan meskipun pasti bukan itu maksud dan kehendak Allah kecuali untuk menjadi bahan pelajaran bagi manusia

Waktu yang terus berjalan dengan sifat manusia yang sarat kelemahan dan kekurangan, apalagi sejak setelah Nabi Ibrahim tiada, kehidupan manusianya cenderung kembali kejalan yang menyimpang dari ajaran kebaikan dan kebenaran yang lurus yang telah diajarkannya.
Seiring dengan berjalannya waktu, perkembangan ajaran kebaikan dan kebenaran ‘agama’ dalam implementasinya dikehidupan manusia, telah melahirkan banyak ‘kelompok’ aliran menurut pemahaman tafsir masing-masing yang diyakininya, akibat kehilangan arah.
Yang patut menjadi perhatian dan menimbulkan pertanyaan adalah ketika suatu pemahaman dapat mempengaruhi dan membawa seseorang menjadi meyakini untuk kembali (menganut) ke agama jaman masa silam. Yang seharusnya sudah ditinggalkan setelah agama pembaharu disediakan oleh Allah dan diperkenalkan secara bertahap oleh nabi yang diutus-Nya sesuai jamannya, sampai pada ketika Allah merasa sudah cukup waktu untuk menurunkan dan menetapkan ajaran-ajaran kebaikan dan kebenaran-Nya dalam kesempurnaan yang final. Yang terakhir, yang tidak ada lagi sesudahnya.

Merujuk pada penjelasan diatas, membuktikan bahwa agama Islam menjadi bagian akhir (penutup) dari perjalanan lahirnya agama-agama Allah yang ada didunia. Yang sudah dipersiapkan melalui tahapan-tahapan yang dikehendaki Allah, yang tidak ada lagi penyempurnaan (agama) sesudahnya. Namun begitu, agama Islam tetap menjunjung tinggi konsep ‘agamamu adalah agamamu, agamaku adalah agamaku’ (lakum dinukum waliadin) bagi mereka yang tetap ingin mempertahankan anutan agama lama sebagai pegangan bagi jalan hidupnya. (BAS4kos180910)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar