Laman

Sabtu, 21 Agustus 2010

ANTARA KONFLIK DAN SIKAP TOLERAN DALAM BERAGAMA (Sebuah introspeksi)

Haruskah sikap toleran diberikan dengan kebebasan tak terbatas?

Meski saya meyakini banyak pihak yang berpendapat untuk memberikan jawaban ‘ya’, tetapi untuk saya pribadi, bependapat sebaliknya. Jawaban saya adalah ‘tidak’ Kalau saja kita mau sedikit berfikir, pemberian ‘ketak-terbatasan’ dalam banyak hal, akan selalu memiliki sisi-sisi yang cenderung menimbulkan akibat negatif. Yang bila tidak terkendali, akan dapat menimbulkan perilaku dalam bentuk tindakan-tindakan ‘semau sendiri’. Tidak peduli pada bahwa dikehidupan bermasyarakat, perlu dapat menempatkan diri dengan menyertakan kemauan untuk melihat dan menilai diri ketika akan melakukan kegiatan diwilayah orang lain, agar terhindar dari kemungkinan memunculkan permasalahan dan pertentangan yang tidak produktif.

SULITNYA MENCARI KEADILAN (Antara ‘pepe’ dan ‘jalan kaki’)

Rasanya kita semua tahu bahwa disetiap istana pemerintahan (istana raja atau kraton dan istana presiden) selalu memiliki halaman depan yang luas untuk berbagai kepentingan. Untuk sebuah kraton, biasanya lebih dikenal dengan alun-alun. Khususnya untuk kraton-kraton di Jawa karena barangkali sebutan itu terkait dengan bahasa daerah setempat. Entahlah apa sebutan lainnya untuk kraton-kraton yang ada diluar Jawa. Ditengah alun-alun biasanya ditanam dua pohon beringin karena kepercayaan ‘animisme’ yang tumbuh dalam masyarakat pada waktu itu (sekian puluh/ratus tahun silam) yang ditanam kanan-kiri bila dilihat dengan membelakangi pintu utama kraton.

LEDAKAN TABUNG GAS, SIAPA YANG SEBENARNYA LEBIH BERTANGGUNG JAWAB? (Sebuah opini)

Sepertinya tidak terlalu sulit untuk menjawabnya. Yang membuatnya sulit karena pihak yang ada kaitan tugas dengan permasalahan, selalu ingin lepas tangan, lepas tanggung jawab. Tidak ada kehendak untuk tampil sebagai ‘pahlawan’ kecuali ketika ada manfaat yang dapat dipetiknya. Hal itu karena kepekaan hati nuraninya sudah tertutup oleh debu kemunafikan yang semakin menebal.

Tidak sulit dalam pengertian yang difahami rakyat tentu saja pemerintah. Siapapun yang berada didalamnya, bukan menjadi persoalan karena yang penting adalah nilai pertanggung jawabannya mengingat program konversi kompor minyak tanah ke gas adalah program pemerintah.

PEMERINTAH SEDIAKAN DANA Rp.180 M UNTUK MAKAM GUS DUR? (Sebuah opini)

Itu adalah newsticker tvOne yang saya pernah baca belum lama ini. Mudah-mudahan saya tidak salah baca akibat mata tua yang kalau melihat tulisan atau angka, suka-suka berbayang.

Kalau newsticker itu benar (Rp.180 M – milyard), memang tidak salah dengan pemikiran yang melatar belakangi keinginan pemerintah untuk memberikan bantuan sebesar itu sebagai tanda penghargaan atas jasa almarhum Gus Dur sebagai guru bangsa dan bekas Presiden. Sayapun sebagai warga bangsa, dapat mengerti dan memahami tujuan dari pemikiran tersebut. Tetapi mari kita coba sorot dengan menggunakan logika dan akal fikiran yang bukan dengan maksud melecehkan suatu pemahaman tertentu dari sebagian warga bangsa yang menganutnya. Karena sorotan ini tertuju kepada pemerintah untuk dapat memikirkannya ulang demi kemaslahatan dan kebaikan pemerintah itu sendiri dimata rakyatnya.

KEKAGUMAN SAYA TERHADAP USTADZ ABU BAKAR BA’ASYIR (Sebuah opini)

Ustadz Abu Bakar Ba’asyir adalah sosok ulama yang termasuk saya kagumi. Kekaguman positif dari sisi ilmu agama, kepemimpinannya yang mampu memukaukan pandangan umat, dan keteguhannya mempertahankan pendapat ketika sampai pada suatu alam pemikiran bahwa itu harus dilakukannya.Tidak goyah oleh suatu keadaan yang barangkali menawarkan ‘kebaikan’. Bagi saya, sisi-sisi tersebut menjadi suatu catatan pribadi tersendiri.
Sisi-sisi yang tidak termasuk menjadi catatan pribadi, menjadi suatu catatan yang bagi saya menimbulkan pertanyaan bila dikaitkan dengan kedudukkan Ustadz Abu sebagai rakyat dan warga dari sebuah negara yang mengharuskan rakyatnya tunduk pada undang-undang.

AKHMADIYAH YANG SELALU DIHUJAT (Sebuah Opini)

Saya hanya orang Islam ‘pinggiran’. Pengetahuan saya tentang agama Islam masih sangat jauh dari memenuhi syarat untuk dapat bertukar fikiran dengan para muslimin yang pengetahuan agamanya pasti sudah sangat baik. Termasuk dalam memahami Al Qur’an.

Pemahaman agama Islam yang saya miliki (dan saya yakini) sesuai dengan pelajaran ngaji yang saya peroleh, mendengar dakwah-dakwah dan dari bacaan-bacaan yang ada termasuk dari dalam Al Qur’an sendiri, adalah bahwa:
  1. Al Qur’an merupakan kitab suci umat Islam yang didalamnya berisi kumpulan firman Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw yang kemudian dibukukan dan dibakukan (tidak boleh diubah dan berubah) menjadi Al Qur’an seperti yang saya kenal saat ini.
  2. Firman-firman Allah yang ada didalam Al Qur’an merupakan firman-firman penyempurna atas firman-firman Allah yang sudah diturunkan terlebih dahulu (tersebut dalam kitab Taurat dan Injil) kepada Nabi-nabi Allah sebelum Nabi Muhammad saw resmi ditunjuk menjadi utusan-Nya, sebagai pemberi peringatan dan penjelasan (kepada seluruh umat).
  3. Nabi Muhammad saw adalah Nabi terakhir dan penutup dalam arti bahwa sesudah Beliau, tidak ada lagi Nabi lain yang diturunkan.
  4. Agama Islam adalah agama Allah terakhir yang sudah disempurnakan dan diridloi yang Allah sendiri menyatakannya, sehingga umat yang berusaha menyimpangkan pengertian dari yang dimaksud tersebut adalah ‘sesat’.

BISUL KONFLIK INDONESIA – MALAYSIA (Sebuah refleksi)

Konflik Indonesia – Malaysia, dalam pandangan saya, benar-benar sudah seperti bisul abadi. Dia tumbuh didalam tubuh kedua negara sudah sejak jaman Presiden Soekarno masih berkuasa. Dijaman itu, slogan profokatif ‘Ganyang Malaysia’ sangat dikenal oleh rakyat Indonesia dengan kobaran semangat yang menyala-nyala. Gaungnya mendunia oleh suara Soekarno yang dengan gelora semangat nasionalismenya yang tidak pernah padam didadanya ketika itu, pasti dibawa kedalam forum-forum pertemuan internasional. Sama seperti ketika beliau menggelorakan semangat anti Amerika.

DAKWAH, SEBERAPA LUAS CAKUPANNYA? (Sebuah harapan untuk para ustadz)

Kata ‘dakwah’, sudah bukan lagi sebagai sesuatu yang asing. Dalam arti positifnya adalah penyiaran pesan yang biasanya lebih terkait dengan usaha penyebaran (ajaran) agama. Apapun agama itu. Tetapi yang lebih fasih mengenal kata ‘dakwah’ adalah agama Islam sesuai dengan asal katanya yang dari bahasa Arab. Sedangkan dalam agama Nasrani (Kriten/Katolik) lebih mengenal kata ‘misi’. “Dakwah’ dalam arti yang lebih memberi kesan negatif adalah ‘propaganda’. Karena propaganda biasanya dimanfaatkan untuk lebih banyak menyiarkan ‘kebohongan’ dengan menyampaikan janji-janji palsu yang muluk-muluk untuk menarik simpati orang.

TERNYATA MASIH PERLU (DIPAKSA) DIDIDIK LAGI. (Sebuah cermin kehidupan)

Kalau kita mau dengan lapang dada mengakui, ternyata sebagian besar dari bangsa kita masih perlu pendidikkan tambahan dihampir semua ‘pelajaran’ terutama yang terkait dengan hakikat hidup bermasyarakat antar sesama atau antara para pejabat dan rakyatnya. Bukan berarti pendidikkan formal yang sudah mereka jalani sampai batas maksimal yang dapat dicapai menurut ukuran dan tingkatannya, tidak bermanfaat dan tidak memenuhi harapan. Tetapi pada kenyataannya dilapangan, dalam konteks implementasi atas ilmu ‘sekolah’ yang sudah diperolehnya, tampak seperti tidak meninggalkan bekas. Analisis berfikirnya tampak tidak mencerminkan sebagai seorang intelektualis yang patut menjadi panutan dan tidak membuahkan hasil dalam pengertian sesuai ajaran kebenaran dan kebaikan agama. Bukan hanya bagi diri yang bersangkutan, tetapi lebih luas lagi bagi masyarakat yang seharusnya dapat ikut serta menikmati dampak positif atas hasil dari sebuah pendidikkan yang telah mereka capai.

Sabtu, 07 Agustus 2010

MENCARI KEMENANGAN ATAU MENCARI KEBENARAN DAN KEADILAN?

Bagi saya, pertanyaan tersebut muncul karena perasaan yang tergelitik oleh banyak peristiwa tawuran yang bukan hanya di akhir-akhir ini terjadi. Suatu pertanyaan yang erat kaitannya dengan keberadaan sebuah organisasi masyarakat yang maksud dan tujuan pendiriannya tentu tidak lepas dari visi dan misi yang sangat menarik simpati. Yang program-program kerjanya dapat dipastikan tidak akan melupakan masalah pemberian perlindungan atau pembelaan dan kesejahteraan, penegakkan kebenaran dan keadilan demi kepentingan masyarakat, serta program-program kerja lain yang sangat diharapkan yang bukan hanya bagi anggota golongan atau kelompoknya.
Namun sayangnya program-program kerja yang seharusnya bersifat dan mengandung unsur sosial, pada kenyataanya dilapangan, lebih sering ditampilkan dalam bentuk-bentuk gerakan yang bertentangan dengan maksud awal pendirian organisasi yang biasanya dengan nama kesatuan atau persatuan atau perkumpulan atau forum atau kelompok atau entah apalagi namanya sesuai dengan keinginan kelompok tersebut dalam memberikan nama organisasinya. Sehingga harapan masyarakat yang semula sudah berketetapan hati mendukungnya agar tercipta keadilan sebagai hasil kebenaran yang dapat ditegakkan, menjadi ibarat jauh panggang dari api. Yang tercipta justru ketidak adilan, ketidak samaan perlakuan, pelecehan kemiskinan, pembodohan dan keangkuhan sikap dari yang dirinya merasa kuat untuk berbuat arogan karena kekuasaan (jabatan, kekayaan, organisasi kelompok). Yang semuanya itu merupakan cermin kekasaran dan kekerasan perilaku yang menyimpang dari ajaran kebaikan dan kebenaran. Perilaku-perilaku yang lebih sering ditonjolkan dalam upaya mencari kemenangan dari pada mencari kebenaran dan keadilan. Hingga tampak lebih selaras dengan seloroh ‘yang penting menang dulu, urusan belakangan’.

SUMPAH ATAU SAMPAH?

Sebenarnya kata ‘sampah’ yang dipertentangkan dengan kata ‘sumpah’, menimbulkan kesan yang sangat tidak proporsional. Karena, bisa jadi, dapat dianggap sebagai merendahkan ‘nilai suci’ yang terkandung didalam kata sumpah itu sendiri. Tetapi yang jelas, bukan itu maksud dari yang ditulis dibawah ini. Itu hanya sebagai ekspresi dari ‘kemendongkolan’ yang terasa sudah menemui jalan buntu ketika sebuah ‘harapan’ masyarakat untuk diperlakukan ‘adil’, tidak lagi dapat disalurkan melalui wakil-wakil mereka yang sebelum menduduki kursi jabatannya telah meminta dukungan ‘suara’nya. Meski tidak semua berperilaku sama, tetapi gambaran secara umum, memberikan petunjuk yang sedemikian itu.

MISI MENCARI MANFAAT

Ketika saya masih di SMA dulu, saya akrab menyingkatnya dengan MMM. Sebuah fabel yang bukunya menjadi salah satu buku (sastra) yang wajib dibaca dalam pelajaran bahasa Indonesia dikelas budaya.

MMM memang hanya sebuah buku dongeng yang berisi penggambaran perilaku (watak dan budi) manusia yang diibaratkan pada perilaku binatang.
Dalam buku tersebut, hutan diibaratkannya sebagai sebuah negara. Dan seluruh binatang isi hutan (warga hutan) yang menghuni digambarkannya sebagai penduduk yang tidak ubahnya bagai kehidupan manusia dengan kelengkapan perangkat pemerintahan yang terdiri dari pimpinan tertinggi (raja hutan) sampai dengan binatang-binatang lainnya sebagai warga biasa yang tidak punya kuasa. Tokoh sentral adalah kancil yang digambarkannya sebagai binatang yang paling cerdik. Mampu mengecoh lawan, bila perlu, demi kepentingan dirinya sendiri atau kepentingan binatang lain yang dianggap perlu atau memerlukan pertolongannya meski kemuidian ditinggalkan setelah dianggapnya selamat.

MENELUSURI JEJAK PERMASALAHAN DIBALIK JALAN CINTA.

Sepertinya banyak diantara kita yang tidak menyadari bahwa cinta, disamping dapat menimbulkan semangat hidup, ternyata dapat pula menenggelamkannya. Meski semuanya itu tergantung dari kapasitas kemampuan masing-masing pelaku dalam menempatkan keberadaan kepentingannya dijalan yang positif atau negatif ketika dilanda olehnya.. Baik yang positif maupun yang negatif, dapat memunculkan situasi yang selaras dengan pemeo ‘cinta itu buta’ yang menyebabkannya sering menjadi lepas kendali, bila cara menempatkan dan memanfaatkan keberadaannya tidak memasukkan unsur pertimbangan logika dan akal fikiran.

KISAH KORBAN KETIDAK ADILAN IKLAN. (sebuah renungan)

Iklan, diakui sebagai salah satu sarana penyampai pesan yang cukup efektif. Apapun yang diiklankan dengan maksud agar diketahui masyarakat, menjadi lebih mudah dan lebih cepat sampai ke sasaran yang diinginkan. Tidak peduli dimanapun mereka (yang menjadi sasaran) berada, karena alat komunikasi sudah tersedia dalam bermacam bentuk dan kecanggihan.
Salah satu dari banyak pesan pemerintah yang selama ini tampak terasa gencar diiklankan adalah pesan ‘wajib’ bayar pajak dalam beberapa versi yang rasanya sudah tidak asing lagi dimata dan telinga pemirsa siaran televisi. Lebih-lebih yang didalamnya disertakan joke ‘apa kata dunia?.
Tidak ada yang aneh didalamnya. Dan memang tidak aneh isi pesan iklan yang ingin pemerintah sampaikan kepada masyarakat warganya. Bahkan isi pesan iklan tersebut, secara moral, dapat menjadi pemicu bagi wajib pajak untuk merasa malu bila tidak segera membayar pajak karena dari hasil terkumpulkannya pembayaran pajak, akan dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat. Yang pembiayaannya, memang harus diambilkan dari dalamnya.