Laman

Sabtu, 09 Oktober 2010

KEADILAN, SUDAHKAH TERTEGAKKAN DINEGERI INI? (Sebuah kritik hukum)

Ketika seorang pencuri ayam tertangkap; ketika seorang (nenek) memungut empat buah coklat tertangkap; ketika seseorang yang memungut buah kapuk randu tertangkap; ketika seseorang yang mencuri setandan buah pisang karena kelaparan oleh kemiskinannya tertangkap, ketika seorang pemulung yang benar-benar menemukan dompet berisi uang tertangkap dengan tuduhan mencuri; dan masih banyak jenis ‘ketika-ketika’ lain dari orang-orang yang terpaksa melakukan tindakan dengan jerat tuduhan melakukan kejahatan karena kemiskinannya tertangkap, dapat dipastikan mereka tidak akan lolos dari ‘hukuman’ dengan ruang penjara siap meneima mereka sebagai penghuninya. Apapun alasan pembelaan yang dikemukakan, tidak mampu menumbuhkan rasa simpati atas keterpurukkan mereka. Sesungguh apapun kejujuran pembelaan yang dikemukakannya, tidak mampu menggugah nurani seorang jaksa penuntut atau hakim untuk mencari kebenaran demi tegaknya hukum dan keadilan. Meskipun tindakan mereka yang oleh penuntutnya dianggap kejahatan, dapat dibuktikan dan terbuktikan di pengadilan bukan sebagai profesi dan semata-mata dilakukan oleh tekanan keadaan akibat kemiskinan. Fikiran jaksa dan hakim yang seharunya mampu menyantuninya dengan keadilan, sudah terbelenggu oleh kebekuan dan kekakuan menghafal hukum-hukum dan peraturan yang hanya tertulis. Mereka tidak mau dan tidak berkehendak untuk pro-aktif menelusur dari sisi lain yang dapat dipakai untuk mempertimbangkan penjatuhan hukuman yang ‘adil’. Fikiran mereka lebih terpaku pada target jumlah penyelesaian perkara yang dapat diselesaikan dengan cepat demi ‘prestasi’. Sehingga penyidikkan, penyeledikkan dan pembuatan berkas perkara, penyelesaiaannya amat sering dipaksakan.Dan kalau perlu melalui penyiksaan agar si tertuduh cepat meng’iya’kan tindakan kejahatan yang dituduhkan. Tidak peduli pada sumpah kejujuran yang dipertahankannya meski dalam siksaan yang diderita oleh para pencari keadilan dari kelompok orang-orang seperti yang tergambarkan diatas. Keadilan bagi mereka masih menjadi barang yang sangat langka untuk dapat diraih. Keadilan bagi mereka masih ibarat jauh panggang dari api.

Minggu, 12 September 2010

POTRET PEMIMPIN DAN WAKIL RAKYAT YANG MEMALUKAN (Sebuah cermin perilaku kehidupan)

Dunia pemerintahan negeri ini sepertinya memang sudah tercabik-cabik. Peralihan pemerintahan jaman orde lama ke jaman orde baru yang menelan banyak sekali korban meninggal dan di penjara tanpa diadili yang begitu menyengat perasaan dan menciderai nilai-nilai kehidupan hak azasi manusia, dapat dikatakan masih belum dapat melahirkan kesejahteraan yang benar-benar dapat dirasakan oleh rakyat negeri ini yang katanya sangat ‘gemah ripah loh jinawi’. Kaya raya sumber daya alam dan mineral (hasil hutan, laut dan pertambangan) sehingga sangat menawan bagi negari-negari penjajah. Kalaupun ketika orde baru berkuasa dalam jangka yang sangat lama (sehingga menimbulkan kebosanan) ada ‘rasa aman’ yang dapat dinikmati oleh rakyat, tetapi ternyata ‘rasa aman’nya itu hanya sebuah rasa aman yang ‘semu’, karena meninggalkan banyak sekali hutang luar negeri yang dicipta selama kepemimpinan pemerintahan orde baru. Pembangunan diberbagai bidang atau proyek yang dilakukan meski dapat dinikmati oleh rakyat, kalau dikaitkan dengan hutang yang tertimbun, tidak sebanding dengan hasilnya. Alih-alih karena penciptaan pembangunan itu hanya kamuflase dari sebuah perilaku korup.

INGIN LEPAS DARI DIANGGAP PECUNDANG? (Iklan tandingan bayar pajak)


INGIN TIDAK DISEBUT PECUNDANG/PENGKHIANAT?

Segera kembalikan uang hasil korupsi Anda.


Anda akan segera menjadi pahlawan


pengentas kemiskinan yang mampu membuat


amarah rakyat menjadi berkah dan anugerah.


Atau Anda akan tetap menjadi pengemplang dan menyimpan


uang haram demi sebutan pecundang


dengan mengkhianati rakyat?


APA KATA DUNIA?

RENCANA PEMBANGUNAN GEDUNG BARU DPR (Sebuah fetakompli untuk rakyat)

Lagi-lagi ini adalah sebuah fetakompli (faith a comply) untuk rakyat dari anggota dewan yang terhormat yang rakyat telah mempergantungkan kepercayaan dan harapan untuk dapat mewakilinya menghadapi pemerintah ketika rakyat merasa butuh harus mencari ‘perlindungan’ karena telah diperlakukan tidak adil oleh para pemimpinnya. Namun rupanya gayung harapan itu tidak bersambut. Yang ada dan terasa, justru leher yang menjadi serasa tercekik menelan biji buah (kehendak anggota dewan yang selalu dipaksakan) yang lebih besar dari lubang kerongkongan dan menjadikannya tersedak.

PATRIOTISME DAN NASIONALISME (Sebuah kritik)

Dibalik kemudahan bagi rakyat negeri ini untuk menjadi patriot bangsa melalui cara membayar pajak dengan jujur dan tepat waktu (agar tidak dikatai oleh dunia), sebenarnya terselip adanya perlakuan tidak adil pemerintah kepada mereka. Terutama rakyat dari kelompok kelas yang sulit memperoleh penghasilan atau yang kualitas kehidupan dan penghidupannya ‘pas-pasan’. Belum lagi mereka (rakyat) yang dari kelompok kelas miskin dan yang lebih miskin lagi, yang hanya dapat melihat dan merasakan bahwa negeri ini kaya, tetapi tidak dapat ikut menikmati.

EKSPLOITASI PEREMPUAN DALAM IKLAN (Sebuah kritik)

Meskipun syah-syah saja membuat tema iklan dengan menggunakan gambar seorang perempuan seksi menurut ukuran mereka yang menganut konsep ‘seni untuk seni’, tetapi rasanya dibalik kata ‘syah’ itu tersembunyi kata-kata yang menyiratkan larangan menurut ukiuran moral dan agama. Masing-masing alasan dapat dipertanggung jawabkan dalam debat yang takkan pernah berakhir bila hanya mengikuti ukuran kepentingannya tanpa kesediaan memahami dari sisi mana sesuatu hal harus disetujui untuk dianggap dan dapat diterima ‘benar’.

KENAIKAN GAJI vs KENAIKAN HARGA (Sebuah fakta kehidupan)

Hanya mereka yang masih mudah ‘tertipu’ akan merasakannya sebagai ‘karunia’ akibat emosi yang terpicu oleh tingginya harga barang-barang kebutuhan yang ada.
Kalau saja mau memperhatikan dan menelaahnya lebih lanjut dengan memperbandingkan tingkat kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok sehari-hari yang akan terjadi akibat pengaruh rencana kenaikan gaji pegawai, tambahan pendapatan atau penghasilannya sebenarnya ‘semu’. Tingkat kenaikan pendapatan yang diperoleh (karena kenaikan gaji), hampir dapat dipastikan tidak (akan) pernah sebanding dengan tingkat kenaikan harga riil yang terjadi.