ALLAH, bagi sementara orang diluar Islam, rupanya diyakini masih dianggapnya sebagai ‘bukan’ nama. Dengan angggapan seperti itu, tersirat didalamnya kesimpulan yang mengarahkan kepada pengertian bahwa ALLAH menjadi seperti dipersamakan dengan ‘benda’ yang belum punya nama. Sehingga mereka (merasa perlu untuk0 terus mencari-cari apa nama Allah yang sebenarnya dari bermacam sumber acuan dan mengkaji berbagai literatur yang mereka yakini dapat memberi petunjuk, yang pada akhirnya membawa mereka sampai pada kesimpulan bahwa nama Allah yang sebenarnya adalah ILAHI Nama ILAHI diyakini sebagai nama Yang Akan Kekal Selama-lamanya..(Brosur: NAMA ILAHI Yang Akan Kekal Selama-lamanya. – Penerbit: Perkumpulan Siswa-siswa Alkitab, Jakarta. – The Devine Name That Will Endure Forever, Indonesian (na-IN) – Made in Japan).
Sayangnya, didalam sumber acuan dan literatur yang menjadi bahan kajiannya tidak menunjukkan adanya tanda-tanda memasukkan Al Qur’an sebagai salah satu sumber acuan, untuk menguji kebenaran yang mereka yakini bahwa nama Allah adalah ILAHI yang akan kekal selama-lamanya. Mengingat Al Qur’an juga merupakan Kitab yang memuat ajaran kebenaran (hukum-hukum) yang diturunkan menjadi penuntun hidup manusia oleh dan dari sumber yang sama dengan yang menurunkan Kitab Taurat dan Injil yang menjadi anutan mereka. Yaitu ALLAH. Yang oleh Allah sendiri, Al Qur’an tersebut telah dinyatakan-Nya sebagai penyempurna Kitab-kitab (Taurat dan Injil) yang telah terlebih dahulu diturunkan-Nya. Bahkan juga dibakukan sebagai kitab suci yang tidak akan berubah dan tidak boleh diubah dari bahasa aslinya kedalam bahasa apapun yang ada didunia demi dan untuk menjaga keaslian dan kesuciannya.